Tampilkan postingan dengan label Sejarah Lokal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Lokal. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Oktober 2011

Prasasti Butulan Zaman Majapahit Ditemukan di Gresik

Prasasti Butulan Zaman Majapahit Ditemukan di Gresik Gresik (beritakota.net) – Sebuah prasasti ditemukan di kawasan pegunungan kapur utara, tertulis di dinding goa butulan Desa Gosari, Ujungpangkah, Gresik Jawa Timur. Prasasti beraksara Jawa kuno ini asli ditulis pada tahun 1298 saka. Terdapat nama pelaku yaitu San Rama Samadaya yang tersingkirkan. Diperkirakan prasasti ini peninggalan jaman kejayaan Majapahit abad 12 silam. Dinamakan prasasti Butalan karena prasasti ini ditulis di dinding goa tembus atau butulan prasasti Butulan aksara Jawa kuno di wasani ngambal 1298 duk winahon denira San Rama Samadaya Makadi Sira Buyutajrah, Tali Kursi Raka Durahana. Dalam terjemahan bahasa indonesia berarti tahun 1298 saka, atau sekitar 1376 m di ambal waktu itu (tempat ini) didiami oleh beliau San Rama Samadaya terutama beliau buyut ajarh talikur, beliau (yang) tersingkirkan. Di atas dinding bertuliskan prasasti aksara Jawa kuno, terdapat goa tempat bertapa San Rama Samadaya, dan olah ilmu kanuragan atau kesaktian bersama muridnya waktu itu. Setelah ditemukan dan dilakukan penelitian bersama tim pengembangan arkeologi nasional, Hasan Shodiq, Kasi Ekonomi dan Pembangunan Kecamatan Ujungpangkah mengatakan, prasasti tersebut ditulis olah salah satu murid San Rama Samadaya pada jaman keemasan atau kejayaan Majapahit yang saat itu rajanya adalah Hayamwuruk, Seri Radjasanagara tahun 1272 saka atau 1359 masehi sampai 1311 saka atau 1389 masehi dengan patihnya Gajah Mada yang meninggal tahun 1290 saka, atau 1368 masehi. Sejak ditinggalkan Mahapatih Gajah Mada muksa atau menghilang kursi Mahapatih menjadi rebutan, San Rama Samadaya terpaksa harus menyingkir, karena kalah dengan Gajah Enggon yang dinobatkan menjadi Mahapatih Majapahit pengganti Gajah mada. Setelah pergolakan perebutan kekuasaan dan kalah pengaruh dengan pejabat lain San Rama Samadaya terpaksa menyingkir dan mengucilkan diri ke goa butulan di kawasan ambal atau Desa Gosari kawasan pegunungan kapur utara yang saat ini menjadi mata pencaharian hidup warga sekitar. Petugas dan penggali kapur PT Polowijo Gosari juga menemukan dua sendang, air jernih yang diyakini tempat pemandian San Rama Samadaya bersama muridnya. Selain itu temuan bersejarah yang tidak kalah penting adalah ditemukannya beberapa tungku dan lokasi pembuatan tembikar atau gerabah satu kilometer dari lokasi prasasti. Tungku, kendi, celengan, teko dan cawang dengan tingkat pembakaran 1000 derajat telah dibawa ke Trowulan Mojokerto pusat penemuan barang bersejarah di zaman Majapahit. Saat ini petugas kecamatan melokalisir lokasi tersebut dengan menancapkan potongan bambu petugas juga menunjukan bekas pecahan tembikar berupa kendi bercerat, celengan, teko dan cawang. Bukti-bukti temuan keramik cina dinasti song abad 12-13 tersebut menandakan kawasan gosari saat itu sudah mampu mengadakan kerjasama dan hubungan internasional. Jarak dari kota Gresik menuju lokasi penemuan prasasti butulan di ambal atau Desa Gosari membutuhkan waktu sekitar satu jam atau sekitar 40 kilometer. (*/yan) Caption: Seorang pegawai Kecamatan, menunjukkan penemuan prasasti berupa huruf Jawa Kuno yang dipahat di dinding Goa Butulan di Desa Gosari, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik, Jawa Timur. (Ant/Syaiful Arif) CopyRight@ beritakota.net on July 30th, 2010 http://www.beritakota.net/index.php/2010/07/30/prasasti-butulan-zaman-majapahit-ditemukan-di-gresik

Gresik Kota Lama, Semula 500 Kini Bangunan Tua Tinggal 125

GRESIK | SURYA Online - Jumlah bangunan tua yang memiliki kekhasan dan nilai sejarah di Gresik terus menurun. Dari jumlah semula yang mencapai 500, kini bangunan tua bersejarah itu tinggal sekitar 125 yang masih utuh berdiri. Sedangkan bangunan tua lain sudah banyak yang hilang, dirobohkan atau beralih fungsi. Menurunnya jumlah bangunan tua itu terungkap dalam rapat dengar pendapat anggota DPRD Gresik dengan para pemerhati sejarah dan budaya Gresik (Kelompok Mataseger dan Masyarakat Sejarawan Indonesia Komisariat Gresik), Selasa (25/10/2011). Jumlah 125 bangunan tua yang tercatat masih berdiri hanyalah bangunan tua yang berada di kawasan Gresik kota lama. Diperkirakan masih ada bangunan tua lain yang juga memiliki nilai penting di kawasan Gresik belahan lain. Meski demikian, ancaman punahnya bangunan tua itu tetap muncul setiap saat.jika Perda Cagar Budaya tidak segera dilahirkan. Pemerhati budaya dan sejarah Gresik, Oemar Oemar Zaenuddin menyatakan sebagai warga asli Gresik dan pemilik salah satu bangunan tua, pada tahun 1990 ia pernah mencatat jumlah bangunan tua di kawasan Gresik Utara sekitar 500 bangunan. “Mungkin karena faktor ekonomi, pemiliknya menjualnya namun yang mengkhawatirkan banyak rumah tua yang diambil kayunya saja,’ ujar Pak Noot, panggilan Zaenuddin. Pak Noot menyambut baik, rencana pembuatan Perda Cagar Budaya meski perda itu belum tentu bisa diandalkan sepenuhnya untuk upaya pelestarian budaya dan sejarah Gresik. “Setidaknya sudah ada perhatian DPRD dan pemerintah, memang yang diperlukan sebenarnya perhatian penguasa pada pemilik bangunan-bangunan itu,’ tambah pak Noot. Ketua Pansus Raperda Cagar Budaya, Jumanto optimistis Raperda Cagar Budaya bisa segera diwujudkan jadi Perda. Ia mengaku senang melihat antusias warga dan akademisi yang mendukung proses pembuatan perda ini. “Prinsipnya kami sama-sama berusaha menyelamatkan budaya dan sejarah di Gresik, saya berterimakasih karena banyak masukan yang kami dapat,” ujar Jumanto kemarin. Di kota Gresik bangunan tua yang layak dicagar budayakan tersebar di lima lokasi berbeda. Pertama kawasan Kampung Arab, dimulai dari makam Malik Ibrahim yang ditandai bangunan-bangunan kuno yang dipengaruhi gaya arsitektur peradaban Timur Tengah. Kawasan kedua, kawasan Pecinan di Jl Setia Budi. Ada juga kawasan arsitektur Kolonial yang berada di Jalan Basuki Rachmat. Berikutnya kawasan Peranakan, yang sekarang lebih dikenal dengan istilah Kampung Kemasan. Kawasan yang terletak di jalan Nyi Ageng Arem-Arem ini dalam hal arsitektur bangunannya mengadopsi arsitektur gaya Tionghoa, Belanda dan Jawa. Kawasan kelima disebut kawasan pribumi, yang ada di Karang Poh dan sekitarnya. • Surya Online Rabu, 26 Oktober 2011 | 18:58 WIB • http://www.surya.co.id/2011/10/26/semula-500-bangunan-tua-tinggal-125

Bangunan Tua Gresik Kota Lama Tinggal 125 Bangunan, Raperda Didukung

GRESIK I SURYA Online - Jumlah bangunan tua yang memiliki kekhasan dan nilai sejarah di Gresik terus menurun. Dari 500-an bangunan tua yang sempat didata kini tinggal sekitar 125 bangunan tua yang masih utuh berdiri. Sedangkan bangunan tua lain sudah banyak yang hilang, dirobohkan atau beralih fungsi. Menurunnya jumlah bangunan tua itu terungkap dalam rapat dengar pendapat anggota DPRD Gresik dengan para pemerhati sejarah dan budaya Gresik, Selasa (25/10/2011) malam. Jumlah 125 bangunan tua yang tercatat masih berdiri hanyalah bangunan tua yang berada di kawasan Gresik kota lama. Diperkirakan masih ada bangunan tua lain yang juga memiliki nilai penting di kawasan Gresik belahan lain. Meski demikian ancaman punahnya bangunan tua itu tetap muncul setiap saat.jika Perda Cagar Budaya tidak segera dilahirkan. Pemerhati budaya dan sejarah Gresik Oemar Zaenuddin menyatakan sebagai warga asli Gresik dan pemilik salah satu bangunan tua ia pernah mencatat jumlah bangunan tua di kawasan Gresik Utara sekitar 500-an bangunan. Perhitungan itu ia lakukan di awal tahun 1990an. “Mungkin karena faktor ekonomi banyak pemilik rumah yang akhirnya menjual bangunan itu, yang mengkhawatirkan banyak rumah tua yang diambil kayunya saja,” ujar Pak Noot, panggilan Zaenuddin. Ketua Pansus Raperda Cagar Budaya, Jumanto optimistis Raperda Cagar budaya bisa segera diwujudkan jadi Perda. Ia mengaku senang melihat antusias warga dan akademisi yang mendukung proses pembuatan perda ini. “Prinsipnya kami sama-sama berusaha menyelamatkan budaya dan sejarah di Gresik, saya berterimakasih karena banyak masukan yang kami dapat,” ujar Jumanto kemarin. • Surya Online Rabu, 26 Oktober 2011 | 20:54 WIB • http://www.surya.co.id/2011/10/26/bangunan-tua-tinggal-125-bangunan-raperda-didukung

Selasa, 25 Oktober 2011

Prof Dr Aminudin Kasdi: Konsep Ada, Tidak Berkelanjutan


SURABAYA l SURYA Online- Pembahasan mengenai pelestarian cagar budaya seperti eks Stasiun Surabaya Kota sudah sering dilakukan tapi hasil akhir selalu tidak ada.
Demikian diungkapkan Aminudin Kasdi sejarawan dan pemerhati cagar budaya Surabaya. Menurutnya pembahasan eks Stasiun Surabaya Kota ini juga pernah dilakukan pada Tahun 2003 - 2004.
“Bahkan konsep mau diapakan berikut gambar sudah jadi,” katanya, Senin (24/10/2011).
Konsep dari investor itu sudah jadi dan sudah melalui penelitian dan pemikiran yang mendalam dari sejarawan dan tim cagar budaya. Namun konsep yang diajukan ke PT KAI tersebut tidak ada tanggapan. “Apa disetujui apa ditolak, tidak ada kabarnya sampai sekarang,” paparnya.
Ia hanya ingin kalau konsep itu ada yang tidak disetujui bagian mana, lalu seperti apa yang seharusnya,” lanjutnya.
Karena kalau sekarang membahas lagi, sama artinya konsep yang kemarin itu tidak berguna. “Kan sayang konsep yang sudah siap malah tidak berguna,” pungkasnya.
  • Surya Online Senin, 24 Oktober 2011 | 14:03 WIB
  • http://www.surya.co.id/2011/10/24/aminudin-kasdi-konsep-ada-tidak-berkelanjutan

Raperda Cagar Budaya Gresik Disusun


GRESIK | SURYA Online - Rapat Paripurna DPRD dan eksekutif Gresik Jawa Timur menetapkan 12 Raperda yang segera dibahas dalam rapat Pansus, Senin (24/10/2011). Salah satu Raperda yang ditetapkan adalah Raperda Cagar Budaya.
Kehadiran Raperda Cagar Budaya ini disambut baik pecinta budaya dan sejarah Gresik. Tapi di sisi lain, pembongkaran bangunan tua dan bersejarah di Gresik tetap saja berlangsung.
Salah satu bangunan tua dan dianggap bersejarah yang kini sudah dibongkar adalah yang berada di depan Mapolres Gresik dan tepat berada di sudut Jl Basuki Rahmad dan Jl KH Kholil itu kini rata dengan tanah
Dari pengamatan di lokasi, terlihat aktivitas pekerja yang tengah membongkar sisa-sisa tembok yang ada. Mereka mengatakan di lokasi yang kini berubah jadi area terbuka itu akan dibangun ruko.
Pengawas pembangunan, Rokim mengaku pihaknya menjalankan pekerjaan di saat bangunan sudah ambruk. “Kami tidak tahu bangunan aslinya, kami kerjakan bangunannya sudah habis, sekarang kami akan meratakan lalu membangun ruko seperti gambar yang diberikan,” ujar Rokim saat ditemui di lokasi, Senin (24/10/2011).
Ia menambahkan, proses pembongkaran dan pembangunan di lokasi itu dilakukan oleh pihak keluarga pemilik rumah yang disebut sebagai keluarga Toko Ladju.
Berdasarkan informasi yang ada, pembongkaran bangunan yang berada di deretan kantor pos Jl Basuki Rahmat itu sudah berlangsung sejak beberapa bulan lalu. Selama ini proses pembongkaran dilangsungkan tanpa terpantau. Kondisi bangunan juga ditutup dinding anyaman bambu yang dipasang mengelilingi semua sisi.
Pemerhati budaya dan sejarah Gresik Oemar Oemar Zaenuddin membenarkan, jika bangunan yang kini rata dengan tanah itu merupakan salah satu bangunan tua yang memiliki arsitektur khas. Ia menyebut dulu di saat jalan Basuki Rahmat masih dikenal dengan nama jalan Loji Gede bangunan itu digunakan untuk toko.
Berikutnya bangunan itu juga ia kenang sebagai salah satu pusat tukang potong rambut.“Bangunan itu sepertinya milik swasta, dulu sering disewakan untuk toko-toko dan tukang cukur, tapi mungkin karena faktor ekonomi jadi dibongkar, dalam kondisi demikian semua tidak bisa berbuat apa-apa, termasuk Pemkab,” ujar pria yang biasa dipanggil Pak Noot itu.
  • http://www.surya.co.id/2011/10/24/raperda-cagar-budaya-gresik-disusun
  • Surya Online Senin, 24 Oktober 2011 | 19:25 WIB

Selasa, 12 Oktober 2010

Seleksi Tim Cagar Budaya Disoal

SURABAYA - SURYA- Dosen komunikasi Universitas Airlangga Sukowidodo dan dosen sejarah Septina Atrianingrum Universitas Negeri Surabaya menurut rencana akan dilantik menjadi Tim Cagar Budaya Surabaya pada Kamis (14/10). Mereka menggantikan RM Yunani Prawiranegara dan Kadaruslan yang meninggal dunia.
Pencalonan Sukowidodo dan Septina sebagai Tim Cagar Budaya sudah disepakati rapat badan musyawarah (banmus) DPRD Surabaya. “Dua nama ini sudah disepakati untuk diparipurnakan,” ujar Wishnu Wardhana, Ketua Banmus, Minggu (10/10).
Namun, pernyataan Wisnu yang juga Ketua DPRD Surabaya ini diprotes Musyafak Rouf, anggota banmus lainnya. Menurutnya pengesahan dua calon tersebut terlalu dipaksakan. Padahal pansus pencarian anggota tim pengawas cagar budaya minta kepada pemerintah kota (pemkot) Surabaya supaya menambah dua nama. Senada dengan Musyafak, anggota lainnya, Fatkur Rohman dan Eddy Rusianto juga mempertanyakan. “Ada apa, kok kesan ingin cepat-cepat?” curiga Eddy. Niks
Surya Online Senin, 11 Oktober 2010 | 07:59 WIB
http://www.surya.co.id/2010/10/11/seleksi-tim-cagar-budaya-disoal.html

Senin, 02 Agustus 2010

Situs Sejarah Kurang Perhatian Pemerintah Kab Gresik

Gresik adalah salah satu kota yang memiliki peradaban sangat panjang. Kota ini pernah menjadi bagian kejayaan kerajaan Mataram. Gresik juga tidak luput dari sejarah panjang kemegahan Majapahit.
Karena itu, tidak heran jika di Gresik sebenarnya banyak terdapat situs-situ bersejarah. Namun, ternyata tidak semua bukti sejarah itu terawat. Bahkan, tidak sedikit saksi sejarah itu yang raib entah ke mana.
Salah satu yang masih menjadi misteri adalah situs-situs yang menunjukkan sejarah kebesaran Gresik pada sekitar tahun 1600-an. Kala itu, bandar Gresik memiliki kesibukan luar biasa karena perannya sebagai distributor.
Tingginya aktivitas perdagangan itulah yang membuat kehidupan Gresik tempo doeloe begitu ramai dan banyak terdapat bangunan besar. Sayangnya, bangunan-bangunan itu tak bisa menjadi peninggalan monumental. Tengok saja, berbagai bangunan tua banyak yang tak terawat. Misalnya deretan bangunan kuno di sekitar Jalan Wahid Hasyim yang kini beralih fungsi.
Contoh lain adalah kebesaran sejarah Sidayu yang dulunya adalah kadipaten pada masa pemerintahan Mataram. Sidayu pernah mengalami masa kejayaan pada masa Kanjeng Sepuh Sidayu.
Namun, tidak ada sejarah runut yang bisa menjelaskan bagaimana seluk beluk Sidayu masa lalu. Mulai dari masa kebesaran maupun keruntuhannya. Berbagai bukti sejarah kejayaan Sidayu saat ini telah menghilang. Kalaupun ada, sudah tidak terawat.
Misalnya cerita tentang kawasan Sidagaran yang dulu adalah pusat perdagangan kerajaan Sidayu. Tidak ada satu pun bukti yang bisa menerangkan cerita itu.
Atau, Telaga Rambit yang dulunya menjadi sumber air warga Sidayu, kondisinya makin memprihatinkan. Belum termasuk situs-situs lain yang menjadi bukti kebesaran Sidayu. "Sebenarnya, kalau mau ditelusuri, cukup banyak situs-situs bersejarah yang perlu mendapat perhatian. Tapi, tidak ada perhatian serius dari pemerintah," kata M Thoha, salah satu pemerhati sejarah Gresik.
Yang terbaru adalah temuan situs baru di kawasan Gosari, kecamatan Ujungpangkah. Di sana beragam bukti-bukti sejarah telah ditemukan. Ternyata, Gosari pernah menjadi bagian kejayaan kerajaan Majapahit.
Kawasan ini juga pernah menjadi pusat produksi tembikar kelas internasional. Faktanya, sampai saat ini praktis belum mendapat penanganan serius. Selain itu, masih banyak lagi bukti-bukti sejarah kebesaran Gresik yang saat ini tak jelas ke mana. (ris/yad/ruk)
http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=148104
Sumber: Jawa Pos_Metropolis [ Minggu, 01 Agustus 2010 ]