Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Oktober 2011

Finalis Cak Yuk Gresik 2011 Nggak Tahu Bupati Gresik


GRESIK | SURYA Online - Aneh tapi nyata, finalis Cak dan Yuk Gresik tahun 2011 tidak tahu nama bupati Gresik. Hal itu terungkap, saat mereka mengikuti audiensi dengan Wabup Drs. HM Qosim, MSi di ruang Graita Eka Praja kantor bupati Gresik, Kamis (13/10/2011).
Saat Wabup Gresik menanyakan nama Bupati Gresik, tak ada satupun finalis yang dapat menjawab.  Sebaliknya, saat dilemparkan pertanyaan siapa Cak dan Yuk Gresik 2010, para finalis ini berebutan untuk menjawab.
“Anda semua adalah pemenang di kabupaten Gresik. Dari 160 pendaftar Cak dan Yuk Gresik 2011, anda masuk dalam 30 anak muda yang berhasil menjadi finalis dalam ajang Cak dan Yuk tahun ini,” ujar Wabup HM Qosim.
Wabup mengingatkan, ajang pemilihan Cak dan Yuk Gresik ini merupakan salah satu sarana yang sangat potensial untuk memperkenalkan kekayaan wisata di kabupaten Gresik. Wabup juga meminta, agar para finalis dibekali pengetahuan tentang Pemkab Gresik, terutama para pejabat yang memegang kursi pemerintahan. “Sehingga, ketika menjalankan tugasnya nanti sebagai duta wisata dapat berjalan maksimal,” ujarnya.
http://www.surya.co.id/2011/10/14/finalis-cak-yuk-gresik-nggak-tahu-bupati-gresik
Surya Online Jumat, 14 Oktober 2011 | 08:21 WIB

Jumat, 22 April 2011

Budi Palopo Pimpin Dewan Kesenian Gresik

GRESIK | SURYA Online – Setelah melalui pemilihan yang ketat, Budi Palopo (49) terpilih sebagai Ketua Dewan Kesenian Gresik (DKG) 2011 – 2016.
Kemenangan sastrawan Gresik yang pernah menulis buku kumpulan puisi berjudul ‘Wong Agung’ ini, setelah berhasil menyisihkan empat kandidat yang lainnya yaitu Atik Bastomi (musik), Bagus Sasmita (pemerhati seni), Roin (teater) dan Sujatmoko (seni pedalangan).
Bupati Gresik Dr Sambari Halim Radianto berjanji tidak akan menarik-narik seniman, untuk kepentingan politik. Sebaliknya, pemkab sudah siap membangun gedung kesenian yang satu komplek dengan sport centre.
“Letaknya di atas bozem di Lapangan Tlogodendo Gresik. Saat ini sedang proses, Insya Allah Februari 2012 sudah bisa dimanfaatkan,” ujarnya.
Budi Palopo mengatakan, langkah awal program kerjanya adalah menyatukan kelompok dan pelaku seni. “Sesuai harapan Bupati Gresik, kami akan melakukan inventarisir seni yaitu mengidentifikasi seni asli dari Gresik. Jangan sampai karya cipta seniman Gresik nantinya diakui pihak lain” ujarnya.
Surya Online Senin, 18 April 2011 | 18:32 WIB
http://www.surya.co.id/berita_terkini/budi-palopo-pimpin-dewan-kesenian-gresik.html

Kamis, 30 September 2010

Pawai Taaruf Buka MTQ Kab Gresik 2010

GRESIK - Puluhan mobil hias berparade di jalan-jalan protokol di kota Gresik siang pada hari rabu (29/9). Parade tersebut merupakan bagian dari prosesi pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Gresik. MTQ XXIV itu dibuka Bupati Gresik Sambari Halim Radianto pada malamnya.
Wakil Bupati Mohammad Qosim kebagian tugas memberangkatkan parade mobil hias yang disebut pawai taaruf tersebut. Pemberangkatan dimulai dari depan Pendapa Bupati Gresik di Jalan KH Wahid Hasyim.
Peserta pawai berjumlah 36 mobil hias yang mewakili 18 kecamatan se-Gresik dan 18 wakil Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gresik. Pawai itu menyusuri beberapa jalan protokol dan berakhir di Jalan Wahid Hasyim di sisi Alun-Alun Kota Gresik.
Kabag Humas Pemkab Gresik Andy Hendro Wijaya menjelaskan, MTQ kali ini diikuti 380 kontingen yang terbagi atas 380 kafilah, 46 ofisial, serta 42 pembina. ''Mereka akan berlaga memperebutkan juara umum dalam tujuh kategori perlombaan seperti tilawah, tafsir, dan hifzhil Quran,'' jelasnya.
Juara MTQ, kata dia, akan mewakili Gresik berlaga dalam MTQ tingkat Provinsi Jawa Timur. ''Juara umum akan mendapatkan trofi bergilir dari Bupati Gresik,'' kata mantan Camat Manyar tersebut. (yad/c5/ruk)
Jawa Pos_Metropolis [ Kamis, 30 September 2010 ]
http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=157743

Minggu, 12 September 2010

Kisah Sekitar Lelang Bandeng Gresik 2010 : “Pelihara Selama Tujuh Tahun”

ADA beberapa jenis bandeng yang ditawarkan dalam lelang bandeng di Gresik. Ada yang disebut bandeng maskot, bandeng kawak, dan bandeng hiburan.
Bandeng maskot adalah bandeng raksasa hasil budidaya petambak asli Gresik. Bandeng tersebut mulai dipelihara di tambak Gresik oleh petambak asli Gresik mulai kecil. ''Bandeng maskot ber-KTP Gresik, karena lahir dan besar di Gresik,'' kelakar Kepala Bidang Perikanan pada Dinas Perikanan, Perikanan, dan Kelautan Gresik Syamsul Arifin.
Di Gresik, ada ratusan petambak ikan. Luas tambak mereka mencapai sepertiga dari luas kabupaten Gresik, atau sekitar 15.400 hektare.
Namun tidak semua petambak berani membudidayakan bandeng berukuran di atas lima kilogram. Sebab, untuk memelihara bandeng tersebut, selain membutuhkan perawatan intensif juga memerlukan waktu setidaknya lima tahun.
Di antara ratusan petambak itu, ada dua petambak yang rutin menyumbang bandeng maskot dalam tradisi tahunan. Salah seorang di antaranya adalah Sirajul Munir.
Petambak asal Pulau Mengare, tepatnya di Desa Tanjungwedoro, Kecamatan Bungah itu, sudah tiga tahun berturut menyumbangkan bandeng maskot ke panitia Pasar dan Lelang Bandeng.
Pada 2009 lalu, Sirajul membawa bandeng seberat 7,05 kilogram. Ketika itu bandeng tersebut laku dilelang Rp 10 juta. Berarti harganya bandengnya berkisar Rp 1,3 juta per kilogram. Memang cukup mahal bila dibandingkan dengan harga bandeng di pasar bandeng yang dijual secara tradisional kepada calon pembelinya.
Untuk mendapatkan bandeng raksasa seberat itu, dia harus memeliharanya selama tujuh tahun. Butuh ketelatenan, keuletan, serta kerja keras agar bandeng tersebut bisa bertahan hidup sampai seusia itu. Karena itu, harga Rp 10 juta yang diperolehnya bisa jadi tidak seberapa dibanding dengan kerja kerasnya selama tujuh tahun tersebut.
Jenis bandeng lain yang dilelang adalah Bandeng Kawak. Menurut Syamsul tidak ada kreteria khusus untuk menentukan bandeng masuk kategori kawak (tua). "Para petambak maupun pedagang menyebut seekor bandeng sudah kawak kalau usianya sudah di atas enam tahun," katanya.
Bedanya dengan bandeng maskot, bandeng kawak bisa saja diperoleh dari luar Gresik. Bahkan siapa pemilik atau petambak yang memelihara bandeng tersebu tidak diketahui. ''Biasanya, panitia membeli dari pedagang,'' tutur Syamsu.
Bandeng kawak terbesar yang pernah dijual dalam lelang adalah seberar sebelas kilogram. ''Sepertinya bandeng itu berasal dari luar Gresik,'' katanya.
Karena itulah untuk mengapresiasi petambak asli Gresik, dimunculkan kategori bandeng maskot, yang sebenarnya adalah bandeng maskot juga. Hanya saja, yang menjadi ukuran utama adalah keasliannya. Meski kalah besar dan berat dari bandeng kawak lain, bandeng maskot juga ikut dilelang.
(yad/ris/ruk)
Jawa Pos_Metropolis [ Minggu, 12 September 2010 ]
http://www.jawapos.com/metropolis/index.php?act=detail&nid=154595

Tradisi Tahunan Akhir Ramadan di Gresik, Lelang Bandeng Bandeng Raksasa Bernilai Jutaan Rupiah

Gresik dikenal sebagai produsen ikan bandeng. Potensi tersebut ditampilkan dalam tradisi tahunan menjelang akhir bulan Ramadan yaitu Lelang Bandeng. Yang dilelang adalah bandeng berukuran besar dengan nilai jutaan rupiah.

MALAM-MALAM terakhir ramadan beberapa ruas jalan di sekitar Pasar Baru Gresik berubah menjadi pasar tradisional. Yang menjadi primadona adalah bandeng. Puncak pasar tradisional itu adalah pelaksanaan Lelang Bandeng.
Awalnya, pasar tradisional tersebut hanya menjajakan bandeng. Mulai dari yang berukuran kecil sampai raksasa tersedia. Untuk mendapatkan bandeng kecil dan berukuran standar, peminat bisa menawar layaknya membeli bandeng di pasar sehari-hari.
Namun tidak demikian halnya dengan bandeng yang berukuran raksasa. Ada proses lelang. Setiap peminat harus bersaing dengan yang lain untuk mendapatkan bandeng tersebut. Pemenangnya tentu saja peminat yang mengajukan penawaran tertinggi.
Konon, lelang badeng tersebut bermula dari para santri Sunan Giri yang bersiap pulang kampung menjelang lebaran. Mereka biasanya membawa oleh-oleh khas Gresik yaitu bandeng.
Versi lain menyebutkan bahwa bandeng adalah lambang prestise bagi warga Gresik di masa lampau. Adalah kebanggaan jika bisa menyantap bandeng terutama saat lebaran. Karena itulah pasar bandeng selalu digelar di akhir Ramadan.
Saat ini, pasar dan lelang bandeng sudah menjadi 'pesta rakyat' warga Gresik untuk menyambut Idul Fitri. Keramaian yang timbul tidak hanya di sekitar Pasar Baru Gresik, namun meluber sampai ke Jalan Samanhudi dan Jalan Gubernur Suryo. Beberapa tahun terakhir bahkan meluas sampai ke Jalan KH Kholil, Jalan Akim Kayat, dan sekitarnya.
Puncak tradisi tahunan itu adalah lelang bandeng. Ada dua jenis bandeng yang dilelang. Yaitu bandeng maskot dan bandeng kawak.
Bandeng maskot adalah bandeng yang menjadi favorit dalam lelang. Bandeng maskot adalah bandeng asli Gresik dan dipelihara nelayan asli Gresik. "Disebut maskot karena kami ingin menghargai jerih payah para petambak asli Gresik," kata Samsul Arifin, panitia pasar dan lelang bandeng 2010.
Sedangkan, bandeng kawak adalah bandeng yang diambil dari para pedagang ikan. Hanya saja, bandeng ini tidak diketahui keasliannya. Apakah asli Gresik atau berasal dari luar Gresik.
Selain itu, ada juga bandeng hiburan. Yakni bandeng dari pedagang. Tapi, tidak dijual. "Hanya untuk dibagikan sebagia hadiah bagi pengunjung," katanya.
Hanya saja, ada beberapa perbedaan antara lelang bandeng saat ini dengan lelang bandeng zaman dulu. Salah satu yang paling mencolok adalah suasana lelang saat ini. "Kalau sekarang kan sudah mirip bazar," kata Samsul Arifin.
Dulu, lelang bandeng murni dilakukan antar para nelayan dan pembeli. Semuanya bernuansa lokal. Mulai dari bandengnya, penjualnya, maupun peserta lelangnya.
Berbeda dengan saat ini. Saat ini, prosesi lelang bandeng banyak didominasi peserta luar Gresik. Termasuk, sebagian bandeng yang jadi obyek jualan dan lelang juga banyak yang dari luar. Kondisi ini tidak lepas dari makin berkurangnya jumlah bandeng di Gresik. (ris/yad)
Jawa Pos_Metropolis [ Minggu, 12 September 2010 ]
http://www.jawapos.com/metropolis/index.php?act=detail&nid=154596

Kamis, 09 September 2010

Tradisi Gresik Menjeleng Idul Fithri : Lelang Bandeng 2010 Harga Jual Turun daripada Tahun Lalu

GRESIK - Lelang Bandeng Tradisional Gresik 2010 pada Selasa malam lalu (7/9) kehilangan gereget. Jika dibanding tahun lalu, bandeng maskot terjual dengan harga lebih murah.
Hasil lelang delapan bandeng maskot menghasilkan dana total Rp 52 juta. ''Tahun depan harus lebih meriah,'' ungkap Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf yang membuka lelang bandeng di Kelurahan Telogopojok, Kecamatan Gresik, itu.
Menurut Gus Ipul, panggilan akrab Saifullah Yusuf, tradisi lelang bandeng di Gresik berpotensi menjadi objek wisata. ''Karena itu, harus dikelola dengan baik,'' ujarnya.
Kurang geregetnya pelaksanaan tahun ini, menurut dia, bisa jadi karena Pemkab Gresik memasuki masa transisi kepemimpinan. Belum ada bupati dan wakil bupati definitif yang memimpin kabupaten tersebut.
Pembawa acara lelang bandeng, Nona Ana dan Bung Sukro dari Becak JTV pun, gagal menghidupkan suasana. Dampaknya, bandeng yang dilelang tahun ini terjual dengan harga lebih murah daripada tahun lalu.
Tahun lalu, dua bandeng maskot seberat 7,05 kilogram dan 6 kilogram terjual masing-masing Rp 10 juta dan Rp 8,7 juta. Namun, tahun ini dua bandeng maskot seberat 8,2 kilogram ''hanya'' laku Rp 6 juta dan yang 6 kilogram terjual Rp 5,5 juta.
Enam ekor bandeng kawak lainnya masing-masing seberat 7 kg dibeli Saifullah seharga Rp 5,5 juta. Bandeng 7,2 kg dibeli kelompok bagian pada Sekretariat Kabupaten (Setkab) Gresik Rp 5 juta. Berikutnya, bandeng 7,6 kg dimenangi ketua DPRD Gresik senilai Rp 5,5 juta.
Lalu, bandeng 8,4 kg dibawa pulang Kapolres Gresik AKBP Jakub Prajogo dengan harga Rp 5,5 juta dan bandeng 9,4 kg didapatkan Kelompok Dinas Gresik seharga Rp 6 juta. Terakhir, bandeng 11 kg laku Rp 7,5 juta yang dibeli kelompok gabungan kecamatan, dinas, dan satuan badan di Gresik seharga Rp 7,5 juta. (yad/ris/c5/ruk)
Jawa Pos_Metropolis [ Kamis, 09 September 2010 ]
http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=154475

Selasa, 07 September 2010

Tradisi Gresik Menjelang Idul Fithri Lelang Bandeng

GRESIK - Pemkab Gresik kembali mengadakan tradisi lelang bandeng. Semula, tradisi tahunan itu dijadwalkan berlangsung rabu besok (8/9). Karena berkaitan dengan penetapan Idul Fitri, pelaksanaan lelang bandeng dimajukan hari ini selasa (7/9).
Ada enam bandeng kawak (besar, Red) yang bakal dilelang dalam budaya tahunan menjelang akhir Ramadan itu. Belum diketahui besar dan beratnya bandeng kawak yang bakal dilelang tersebut. ''Bandeng-bandeng itu masih belum dientas pemiliknya,'' jelas Syamsul Arifin, panitia Lelang Bandeng Gresik, kemarin (6/9).
Bandeng kawak yang bakal dilelang tahun ini adalah milik Sirajul Munir. yang merupakan petambak asli Desa Tanjung Wedero, Kecamatan Bungah. Selama ini, Tanjung Wedero dikenal sebagai daerah Pulau Mengare, yaitu penghasil bandeng terbesar dengan kualitas terbaik Gresik. Sementara itu, bandeng maskot yang bakal dilelang adalah milik Askur, petambak asal Kecamatan Ujungpangkah.
Lelang bandeng tersebut juga dimeriahkan pasar bandeng di sepanjang Jalan H Samanhudi, depan Pasar Gresik. Ratusan pedagang bandeng akan menggelar dagangannya di sana. (yad/c5/ruk)
Jawa Pos_Metropolis [ Selasa, 07 September 2010 ]
http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=154158

Minggu, 29 Agustus 2010

Tradisi Gresik Lelang Bandeng Besar

SATU lagi, kekhasan Gresik selama bulan suci ramadan adalah pasar dan lelang bandeng. Pasar dan lelang bandeng itu biasanya digelar pada malam 28 Ramadan. Pada pasar bandeng itu, masyarakat calon pembeli bisa membeli bandeng dengan berbagai ukuran. Mulai satu kilo dengan isi empat ekor sampai lima kilogram per ekor.
Tahun 2010 sekarang ini, Pemerintah :abupaten (Pemkab) Gresik belum bisa memastikan berapa ukuran bandeng kawak yang bakal dilelang kepada masyarakat. "Doakan aja saja, ada bandeng kawak berukuran besar yang bisa dilelang nanti," kata Kabag Humas Pemkab Gresik Andhi Hendro Wijaya pada Jumat (27/8). Pada Ramadan tahun lalu, lelang bandeng maskot diikuti dua bandeng. Yakni, bandeng seberat 7,05 kg milik H. Sirajudin, asal Mengare, Kecamatan Bungah, dan bandeng 6 kg milik Askur, petambak asal Ujungpangkah. (yad/ris)
Jawa Pos_Metropolis [ Minggu, 29 Agustus 2010 ]
http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=152713

Berburu Lailatul Qadar di Makam Sunan Giri

TRADISI lain yang ditunggu warga Gresik saat ramadan adalah malam selawe di Desa Giri, Kecamatan Kebomas. Ratusan pedagang kaki lima membeber dagangan di kanan-kiri jalan menuju makam Sunan Giri yang berada di desa tersebut.
Pedagang makanan, pakaian hingga arena permaian telah dibuka untuk menyambut malam selawe bulan Suci Ramadan. Kemunculan para pedagang kaki lima itu tidak terlepas ramainya suasana saat malam 25 Ramadan di makam Maulana Ainul Yakin, atau Sunan Giri, atau Raden Paku, atau Prabu Satmata, atau Joko Samudra.
Mereka dari datang Gresik hingga luar pulau. Tujuan utamanya adalah ngalab berkah dengan berziarah ke makam Sunan Giri, di bukit Giri tersebut.
Saking banyaknya pengunjung ditambah membludaknya PKL jalan selebar delapan meter dengan panjang sekitar satu kilometer menuju makam Sunan Giri ditutup untuk kendaraan umum. "Semakin malam, peziarah ke makam Sunan Giri pada malam selawe (25) Ramadan semakin ramai," ujar Abdul Malik, warga masyarakat Desa Giri, Kecamatan Kebomas.
Di dalam makam itu, ada sejumlah peraturan yang harus ditaati para peziarah. Di antaranya, tidak boleh memotret dan harus melepas alas kaki.
Pada malam hari, pemandangan dari bukit Giri, kompleks makan Sunan Giri cukup elok. Selain udara segar karena pepohonan cukup rindang. "Ribuan peziarah itu datang ke makam kanjeng Sunan Giri untuk berdoa dengan harapan bisa mendapatkan berkah," ujar salah seorang guru kunci makam itu.
"Selain itu, mereka berharap bisa mendapatkan malam yang paling istimewa di bulan Ramadan. Malam Lailatul Qodar," imbuhnya. Selama ini, masyarakat mempercayai malam seribu bulan itu akan turun pada malam ganjil. (yad/ris/ruk)
Jawa Pos_Metropolis [ Minggu, 29 Agustus 2010 ]
http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=152714

Tradisi Ramadan Yang Ditunggu-Tunggu Warga Kabupaten Gresik Kolak Ayam Penyembuh Sakit

Ada tiga tradisi selama bulan suci ramadan yang ditunggu masyarakat Gresik. Tradisi itu adalah (1) kolak ayam,(2) malam selawe di Makam Sunan Giri, serta (3) pasar dan lelang bandeng. Semua momen itu terjadi pada malam likuran atau sepuluh hari terakhir Ramadhan.

TUMPUKAN piring setinggi 20 sentimeter dengan panjang hampir 100 meter. Isi piring itu adalah kolak. Tapi, kolak yang dihidangkan masyarakat Desa Gumeno, Kecamatan Manyar beda. Karena isinya, bukan labuh (walu) atau ketela, melainkan daging ayam. Karena itulah dinamakan Kolak Ayam.
Kolak Ayam adalah tradisi yang sudah terun temurun di desa tersebut. Tidak diketahui secara pasti kapan hidangan kolak ayam untuk buka puasa mulai digelar di desa tersebut. Yang pasti, buka bersama (bukber) kolak ayam mulai disajikan setiap malam 23 Ramadan. Untuk tahun ini, akan digelar pada 1 September memasuki tahun ke-559.
Menurut Nadzir, 55, tokoh masyarakat desa setempat, mengatakan kolak yang dibuat warganya itu menggunakan bahan baku ayam dicampur dengan rempah-rempah. Hidangan itu setiap kali disajikan pada malam 23 Ramadan dan sudah menjadi tradisi warga sekitar kampung. Masyarakat meyakini kolak ayam yang disajikan dalam menu khas berbuka puasa bisa menyembuhkan segala penyakit.
Karena daging ayam dimasak cukup banyak, proses pembuatannya membutuhkan waktu mininal dua hari, dimuali malam 21 Ramadan. Mereka memasak mulai badal salat Asar dipusatkan di halaman masjid jamik Desa Gumeno. Sedikitnya melibatkan 30 orang, yang dipilih secara khusus.
Tidak semua orang boleh ikut masak. Uniknya, semua yang terlibat dalam proses pembuatan kolak ayam adalah laki-laki. Mulai dari yang menyediakan bahan hingga juru masaknya harus dilakukan laki-laki.
Proses pembuatan kolak ayam pun dibagi per kelompok, ada yang bertugas memasak bubur, ada pula yang bertugas menyiapkan bumbu masakan. Tahun lalu, kolak ayam itu menghabiskan 106 ekor ayam jantan, satu kuintal bawang daun, empat kuintal gula merah, serta 212 butir kelapa.
Usai salat Asar, pemotongan ayam dimulai. Jeroan, kepala, dan kakinya dipisahkan. Lalu proses memasak ayam tersebut dilakukan dalam beberapa kuali besar. Daging ayam dimasak sampai lunak. Setelah daging ayam matang, dikumpulkan di tempat tertentu, sedangkan kaldunya disimpan di tempat terpisah.
Kelompok lain bertugas membuat adonan gula merah. Ada juga bagian mengumpulkan hasil parutan kelapa yang sebelumnya telah dibagikan ke warga desa. Parutan kelapa itu diperas tiga kali untuk diambil santannya.
Setelah dirasa cukup matang dan timbul buih, maka ditambahkan kaldu ayam setengah ember, dan ditambah kani (santan kelapa perasan pertama), ditambah dengan 1,5 ember gula merah dan jinten secukupnya. Bahan itu kemudian diaduk selama 10-15 menit. "Biasanya untuk memasak satu kuali membutuhkan waktu sekitar 50-55 menit," jelas Nadzir.
Menurut sejarah, tradisi pembuatan kolak ayam di malam ke 23 Ramadan bermula saat Sunan Dalem Putra kedua Sunan Giri mebangun Masjid Jamik untuk dijadikan tempat menyebarkan agama Islam. Suatu ketika Sunan Dalem mengalami sakit yang tidak diketahui jenis penyakitnya. Tidak satu pun jenis obat yang mampu menyembuhkan Sunan Dalem dari sakitnya.
Hingga suatu hari di malam 23 Ramadan, Sunan Dalem memutuskan untuk Salat Istikharah dan akhirnya Sunan Dalem untuk meminta petunjuk dari Allah. Seketika itu Sunan Dalem meminta kepada para santrinya untuk menyiapkan ayam jago kampung untuk dipotong dan dimasak ke masjid menjadi kolak ayam.
Ajaibnya setelah menyantap hidangan kolak ayam, Sunan Dalem berangsur sembuh dari penyakitnya. Sejak itulah sebagai ungkapan syukur atas sembuhnya Sunan Dalem, penduduk Desa Gumeno membuat kolak ayam setiap malam 23 Ramadan dan dijadikan menu santap berbuka puasa. (yad/ris/ruk)
Jawa Pos_Metropolis [ Minggu, 29 Agustus 2010 ]
http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=showpage&kat=1&subkat=22