GRESIK | SURYA Online - Didapatnya piala Adipura untuk ketujuh kalinya, mendapat sambutan luar biasa dari pejabat dan masyarakat Gresik Jawa Timur. Selain mengkirab piala yang didapat langsung dari Presiden SBY tersebut keliling kota, juga digelar sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan Hari Lingkungan Hidup di alun-alun dan pendopo kabupaten, Kamis (16/6) sore.
Kegiatan di alun-alun menampilkan serangkaian kegiatan, yang berorientasi pada pelestarian lingkungan. Mulai dari melepas burung ke alam bebas, pameran atraksi cinta lingkungan hidup oleh sekolah peraih Adiwiyata, lomba pembuatan handicraft berbahan limbah. Bahkan sejumlah murid SD, SMP dan SMA unjuk kebolehan dengan membuat mural di atas kain sepanjang 100 meter.
Wakil Bupati HM Qosim yang berbaur dengan seluruh peserta di pendopo kabupaten, mengatakan kegiatan ini sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada masyarakat khususnya lingkungan sekolah sebab Kabupaetn Gresik merupakan pemegang Adipura terbaik di Jawa Timur dan menempati ranking ke 4 di Indonesia. Sedangkan, Gresik juga
berhasil menyabet 5 piala Adiwiyata sekaligus pada tahun 2011. “Setidaknya sudah 8 lembaga pendidikan yang telah meraih Adiwiyata,” ujar Wakil Bupati Gresik HM Qosim.
http://www.surya.co.id/2011/06/16/tujuh-kali-adipura-spirit-hari-lingkungan
Surya Online Kamis, 16 Juni 2011 | 19:14 WIB
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan Hidup. Tampilkan semua postingan
Rabu, 22 Juni 2011
Senin, 08 November 2010
Hektare Tambak Gresik Kebanjiran
GRESIK | SURYA Online - Banjir di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, masih menggenangi 14 Desa sekaligus mengakibatkan ratusan hektare tambak dan sawah terendam. Kapolsek Cerme, Gresik, AKP Udin Syafrudin, Senin (8/11/2010), mengatakan desa-desa di Kecamatan Cerme yang tergenang banjir adalah Desa Lengkong, Dampaan, Dooro, Dadap Kuning, Burang Anyar, Morowudi, Iker-Iker, Geger, Dongos, Betiting, Suko Anyar, Njono, Pandu, Landean, dan Kandangan.
Data lain, 2.175 rumah terendam, 568 hektare sawah dan 274 hektare tambak juga tergenang banjir. Jalan Poros Desa (JPD) tergenang 16.360 meter. Kerugian total untuk banjir di Kecamatan Cerme sekitar Rp 945 juta.
“Sekarang banjir mulai begeser ke Kecamatan Cerme bagian utara. Pagi ini, tambak-tambak di Desa Tambak Beras, wilayah Cerme Utara, mulai terendam banjir,” katanya.
Kapolsek memaparkan, Senin pagi air masih juga menggenangi Jalan Raya Cerme sepanjang 600 meter, sedangkan Minggu (7/11) sore sekitar satu kilometer. Kendati demikian, banjir mengakibatkan kemacetan cukup panjang.
“Pagi tadi, banjir di Jalan Raya Cerme di Desa Morowudi sedalam 15 centimeter mengakibatkan kemacetan. Volume kendaraan sangat padat, masyarakat beraktifitas seperti berangkat kerja, sekolah, atau lainnya,” terang AKP Udin Syafrudin.
Pertigaan Morowudi merupakan jalur utama penghubung Kecamatan Menganti dan Benjeng menuju ke arah kota.
Ia memprediksi, banjir akan segera surut jika tidak ada hujan dari wilayah Mojokerto yang hilirnya terdapat Kali Lamong anak Bengawan Solo yang meluap di wilayah Kecamatan Balongpanggang, Benjeng, Kedamean, dan Menganti.
Jenis Vaname
Selain merendam ribuan rumah, banjir di Kecamatan Cerme juga menggenangi ratusan hektare tambak yang mengakibatkan kerugian ratusan juta rupiah. “Ratusan hektare tambak udang petambak di Cerme merugi karena banjir. Paling banyak adalah jenis vaname dengan sistem tradisional,” kata Ahmad Dahlan, ketua Himpunan Budi Daya Ikan Kabupaten Gresik.
Namun, dia mengaku belum menghitung pasti kerugian yang dialami petambak di Cerme. Tapi kemungkinan mencapai ratusan juta rupiah. Rinciannya, untuk satu hektare tambak vaname bisa menghasilkan 200 kilogram dan harganya Rp30 ribu perkilogram.
“Namun, banjir rutin seperti ini biasanya sudah diprediksi oleh petambak, sehingga mereka bisa meminimalisasi kerugian. Spekulasi mereka sudah matang,” tuturnya menjelaskan.
Para petani berharap pemerintah memberikan bantuan benih kepada para petambak yang terkena musibah banjir. “Saat ini memang ada bantuan benih dari pemerintah, satu kecamatan 10 orang, masing-masing orang senilai Rp 6 juta. Tapi, ini tidak merata,” tandasnya.
Surya Online Senin, 8 Nopember 2010 | 11:20 WIB
http://www.surya.co.id/2010/11/08/ratusan-hektare-tambak-gresik-kebanjiran.html
Data lain, 2.175 rumah terendam, 568 hektare sawah dan 274 hektare tambak juga tergenang banjir. Jalan Poros Desa (JPD) tergenang 16.360 meter. Kerugian total untuk banjir di Kecamatan Cerme sekitar Rp 945 juta.
“Sekarang banjir mulai begeser ke Kecamatan Cerme bagian utara. Pagi ini, tambak-tambak di Desa Tambak Beras, wilayah Cerme Utara, mulai terendam banjir,” katanya.
Kapolsek memaparkan, Senin pagi air masih juga menggenangi Jalan Raya Cerme sepanjang 600 meter, sedangkan Minggu (7/11) sore sekitar satu kilometer. Kendati demikian, banjir mengakibatkan kemacetan cukup panjang.
“Pagi tadi, banjir di Jalan Raya Cerme di Desa Morowudi sedalam 15 centimeter mengakibatkan kemacetan. Volume kendaraan sangat padat, masyarakat beraktifitas seperti berangkat kerja, sekolah, atau lainnya,” terang AKP Udin Syafrudin.
Pertigaan Morowudi merupakan jalur utama penghubung Kecamatan Menganti dan Benjeng menuju ke arah kota.
Ia memprediksi, banjir akan segera surut jika tidak ada hujan dari wilayah Mojokerto yang hilirnya terdapat Kali Lamong anak Bengawan Solo yang meluap di wilayah Kecamatan Balongpanggang, Benjeng, Kedamean, dan Menganti.
Jenis Vaname
Selain merendam ribuan rumah, banjir di Kecamatan Cerme juga menggenangi ratusan hektare tambak yang mengakibatkan kerugian ratusan juta rupiah. “Ratusan hektare tambak udang petambak di Cerme merugi karena banjir. Paling banyak adalah jenis vaname dengan sistem tradisional,” kata Ahmad Dahlan, ketua Himpunan Budi Daya Ikan Kabupaten Gresik.
Namun, dia mengaku belum menghitung pasti kerugian yang dialami petambak di Cerme. Tapi kemungkinan mencapai ratusan juta rupiah. Rinciannya, untuk satu hektare tambak vaname bisa menghasilkan 200 kilogram dan harganya Rp30 ribu perkilogram.
“Namun, banjir rutin seperti ini biasanya sudah diprediksi oleh petambak, sehingga mereka bisa meminimalisasi kerugian. Spekulasi mereka sudah matang,” tuturnya menjelaskan.
Para petani berharap pemerintah memberikan bantuan benih kepada para petambak yang terkena musibah banjir. “Saat ini memang ada bantuan benih dari pemerintah, satu kecamatan 10 orang, masing-masing orang senilai Rp 6 juta. Tapi, ini tidak merata,” tandasnya.
Surya Online Senin, 8 Nopember 2010 | 11:20 WIB
http://www.surya.co.id/2010/11/08/ratusan-hektare-tambak-gresik-kebanjiran.html
Ribuan Hektar Tambak dan Sawah Terendam Banjir Kali Lamong
GRESIK, KOMPAS.com- Sebanyak 3.082 hektar sawah dan 274 hektar tambak terendam luapan Kali Lamong. Sawah yang terendam tersebar di Kecamatan Benjeng (2.204 hektar), Cerme (568 ha), dan Kedamean (310 ha), sedangkan seluruh tambak yang terendam di Cerme (274 ha).
Hingga Senin (8/11/2010), genangan air di rumah warga masih terlihat di Morowudi dengan ketinggian 30 sentimeter hingga 80 cm. Sementara itu petani di Cerme memanen dini tanaman padinya.
Suparno, seorang petani, menuturkan, padi itu seharusnya dipanen dua minggu lagi. "Daripada rusak mending dipanen," katanya.
Sementara itu, sejumlah sekolah meliburkan. Di antara sekolah yang meliburkan siswanya seperti SMP dan SMA Muhammadiyah dan MI serta SMP Tarbiyatul Muwahidin Morowudi. Halaman MI Tarbiyatul Muwahidin yang masih penuh genangan air digunakan anak-anak bermain air. Mereka bermain dan bersenda gurau dengan temannya.
"Kami nggak sekolah karena banjir. Kami main-main karena sekolah libur," ujar Miko seorang siswa.
Seorang guru, Rokhim, menjelaskan, sekolah diliburkan sementara. "Selasa atau paling lambat Rabu kegiatan belajar mengajaar sudah kembali normal," katanya.
Luapan Kali Lamong berangsur-angsur surut. Total wilayah yang terendam 41 desa di lima kecamatan, yakni Benjeng 14 desa, Cerme 13 desa, Kedamean tiga desa, Balongpanggang delapan desa, dan Menganti tiga desa.
Total rumah yang sempat tergenang 6.951. "Untungnya banjir Kali Lamong kiriman dari Lamongan dan Mojokerto hanya lewat dan genangan tidak lama," kata Sulastri seorang warga.
Kompos.Com Senin, 8 November 2010 | 15:48 WIB
http://regional.kompas.com/read/2010/11/08/15483234/Ribuan.Ha.Tambak.dan.Sawah.Terendam
Hingga Senin (8/11/2010), genangan air di rumah warga masih terlihat di Morowudi dengan ketinggian 30 sentimeter hingga 80 cm. Sementara itu petani di Cerme memanen dini tanaman padinya.
Suparno, seorang petani, menuturkan, padi itu seharusnya dipanen dua minggu lagi. "Daripada rusak mending dipanen," katanya.
Sementara itu, sejumlah sekolah meliburkan. Di antara sekolah yang meliburkan siswanya seperti SMP dan SMA Muhammadiyah dan MI serta SMP Tarbiyatul Muwahidin Morowudi. Halaman MI Tarbiyatul Muwahidin yang masih penuh genangan air digunakan anak-anak bermain air. Mereka bermain dan bersenda gurau dengan temannya.
"Kami nggak sekolah karena banjir. Kami main-main karena sekolah libur," ujar Miko seorang siswa.
Seorang guru, Rokhim, menjelaskan, sekolah diliburkan sementara. "Selasa atau paling lambat Rabu kegiatan belajar mengajaar sudah kembali normal," katanya.
Luapan Kali Lamong berangsur-angsur surut. Total wilayah yang terendam 41 desa di lima kecamatan, yakni Benjeng 14 desa, Cerme 13 desa, Kedamean tiga desa, Balongpanggang delapan desa, dan Menganti tiga desa.
Total rumah yang sempat tergenang 6.951. "Untungnya banjir Kali Lamong kiriman dari Lamongan dan Mojokerto hanya lewat dan genangan tidak lama," kata Sulastri seorang warga.
Kompos.Com Senin, 8 November 2010 | 15:48 WIB
http://regional.kompas.com/read/2010/11/08/15483234/Ribuan.Ha.Tambak.dan.Sawah.Terendam
Minggu, 07 November 2010
Luapan Kali Lamong Meluas di Gresik
GRESIK, KOMPAS.com - Luapan Kali Lamong sejak Sabtu (6/11/2010) semakin meluas. Pada Minggu (7/11/2010) banjir di wilayah Kecamatan Balongpanggang dan Balongpanggang mulai surut, tetapi di wilayah Benjeng dan Cerme luapan air menggenangi rumah warga dan areal sawah dan tambak.
Di Kedungrukem jalan sepanjang 2 meter tergerus air sedalam 130 sentimer mulai diuruk warga. Sebuah truk pengangkut pasir sempat terperosok. Genangan air juga menyebabkan jalur Cerme- Benjeng-Balongpanggang serta Driyorejo-Legundi-Boboh-Kedamean lumpuh.
Genangan air juga menyebabkan arus lalu lintas di Metatu dan Morowudi Cerme macet sepanjang 2 kilometer. Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan dan sebagian kendaraan mogok. Salah seorang warga Cerme Barmandi menuturkan air mulai masuk wilayah Cerme pada pukul 05.00.
Kemacetan terjadi mulai pagi. Salah seorang sopir angkutan trayek Balongpanggang-Pasar Turi mengeluhkan banjir menyebabkan sopir merugi. Dia menuturkan sejak Sabtu dari 125 unit kendaraan di trayek itu hanya 20 unit yang beroperasi.
Jalur macet menyebabkan bensin yang dibutuhkan lebih banyak dan mengurangi pendapatan sopir. Selain itu jalurnya harus memutar hingga sempat lewat Dawarblandong. "Mau menarikkan tarif kasihan penumpang, tidak dinaikkan ongkosnya sopir yang rugi," tuturnya.
Sementara banjir juga menyebabkan udang dan bandeng di tambak lepas. Sejumlah warga memasang jaring untuk menangkap ikan yang lepas itu. Luapan banjir Kali Lamong telah menggenangi 23 desa di empat kecamatan, merendam 4.612 rumah,1.033 hektar sawah.
Laporan wartawan Kompas Adi Sucipto
Minggu, 7 November 2010 | 10:35 WIB
http://regional.kompas.com/read/2010/11/07/10350484/Luapan.Kali.Lamong.Meluas.
Di Kedungrukem jalan sepanjang 2 meter tergerus air sedalam 130 sentimer mulai diuruk warga. Sebuah truk pengangkut pasir sempat terperosok. Genangan air juga menyebabkan jalur Cerme- Benjeng-Balongpanggang serta Driyorejo-Legundi-Boboh-Kedamean lumpuh.
Genangan air juga menyebabkan arus lalu lintas di Metatu dan Morowudi Cerme macet sepanjang 2 kilometer. Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan dan sebagian kendaraan mogok. Salah seorang warga Cerme Barmandi menuturkan air mulai masuk wilayah Cerme pada pukul 05.00.
Kemacetan terjadi mulai pagi. Salah seorang sopir angkutan trayek Balongpanggang-Pasar Turi mengeluhkan banjir menyebabkan sopir merugi. Dia menuturkan sejak Sabtu dari 125 unit kendaraan di trayek itu hanya 20 unit yang beroperasi.
Jalur macet menyebabkan bensin yang dibutuhkan lebih banyak dan mengurangi pendapatan sopir. Selain itu jalurnya harus memutar hingga sempat lewat Dawarblandong. "Mau menarikkan tarif kasihan penumpang, tidak dinaikkan ongkosnya sopir yang rugi," tuturnya.
Sementara banjir juga menyebabkan udang dan bandeng di tambak lepas. Sejumlah warga memasang jaring untuk menangkap ikan yang lepas itu. Luapan banjir Kali Lamong telah menggenangi 23 desa di empat kecamatan, merendam 4.612 rumah,1.033 hektar sawah.
Laporan wartawan Kompas Adi Sucipto
Minggu, 7 November 2010 | 10:35 WIB
http://regional.kompas.com/read/2010/11/07/10350484/Luapan.Kali.Lamong.Meluas.
Kamis, 04 November 2010
Pemerintah Tertarik Lahan Hortikultura
Gresik - Surya- Keseriusan PT Polowijo Gosari menggarap kawasan Gresik Utara menjadi kawasan hortikultura, akhirnya menarik perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Melalui Komite Inovasi Nasional (KIN), Pemerintah RI menjajagi potensi yang ada di lahan seluas 50 ribu hektar, yang bakal dijadikan hutan hortikultura.
“Kedatangan kami ke sini, memang untuk melihat langsung kondisi lahan yang bakal dijadikan lahan hortikultura milik PT Polowijo Gosari,” ujar Jusman Syafii Djamal, salah satu anggota KIN.
Didampingi A Djauhari Arifin, CEO PT Polowijo Gosari, Jusman yang juga mantan Menteri Perhubungan ini mengatakan, lahan hortikultura yang diajukan PT Polowijo Gosari ini selain terbesar juga menjadi satu-satunya yang ada di Indonesia.
“Boleh dikata, proyek ini nantinya bakal jadi percontohan proyek sejenis se Indonesia,” ujarnya.
Setelah melihat lokasi, kata Jusman, ia akan rapat dengan anggota KIN lainnya lalu hasilnya diserahkan ke Menko Perekonomian untuk selanjutnya diteruskan ke Presiden SBY.
“Bila bapak Presiden setuju, maka beliau akan memberikan pengarahan dan dukungan. Bisa berupa payung hukum, atau anggarannya,” tambahnya.
Sementara itu, A Djauhari Arifin menambahkan lahan tersebut berada di kawasan Gresik Utara dan berdampingan dengan aliran Bengawan Solo. Sehingga nantinya, proyek ini juga akan memanfaatkan potensi yang ada di Bengawan Solo.
“Lahan tersebut akan kita ubah menjadi kawasan yang potensial, bagaimana merubah kawasan bencana banjir menjadi lahan yang barokah,” ujarnya.(nsan)
Surya Online Kamis, 4 Nopember 2010 | 07:30 WIB
http://www.surya.co.id/2010/11/04/pemerintah-tertarik-lahan-hortikultura.html
Melalui Komite Inovasi Nasional (KIN), Pemerintah RI menjajagi potensi yang ada di lahan seluas 50 ribu hektar, yang bakal dijadikan hutan hortikultura.
“Kedatangan kami ke sini, memang untuk melihat langsung kondisi lahan yang bakal dijadikan lahan hortikultura milik PT Polowijo Gosari,” ujar Jusman Syafii Djamal, salah satu anggota KIN.
Didampingi A Djauhari Arifin, CEO PT Polowijo Gosari, Jusman yang juga mantan Menteri Perhubungan ini mengatakan, lahan hortikultura yang diajukan PT Polowijo Gosari ini selain terbesar juga menjadi satu-satunya yang ada di Indonesia.
“Boleh dikata, proyek ini nantinya bakal jadi percontohan proyek sejenis se Indonesia,” ujarnya.
Setelah melihat lokasi, kata Jusman, ia akan rapat dengan anggota KIN lainnya lalu hasilnya diserahkan ke Menko Perekonomian untuk selanjutnya diteruskan ke Presiden SBY.
“Bila bapak Presiden setuju, maka beliau akan memberikan pengarahan dan dukungan. Bisa berupa payung hukum, atau anggarannya,” tambahnya.
Sementara itu, A Djauhari Arifin menambahkan lahan tersebut berada di kawasan Gresik Utara dan berdampingan dengan aliran Bengawan Solo. Sehingga nantinya, proyek ini juga akan memanfaatkan potensi yang ada di Bengawan Solo.
“Lahan tersebut akan kita ubah menjadi kawasan yang potensial, bagaimana merubah kawasan bencana banjir menjadi lahan yang barokah,” ujarnya.(nsan)
Surya Online Kamis, 4 Nopember 2010 | 07:30 WIB
http://www.surya.co.id/2010/11/04/pemerintah-tertarik-lahan-hortikultura.html
Senin, 27 September 2010
Upaya Desa Kramat Inggil di Gresik Meraih Target Desa Adiwisata Gaet Perusahaan, Bikin Hutan Desa
Kramat Inggil hanyalah sebuah desa di Kecamatan Kebomas, Gresik. Namun, saat ini desa tersebut tengah menjadi sorotan karena keberhasilannya mengelola sampah. Kini, desa itu bahkan berusaha meraih target sebagai desa adiwisata, yaitu desa yang ramah lingkungan, lewat berbagai kegiatan.
SUASANA Kramat Inggil kemarin (26/9) sedikit lebih ramai jika dibandingkan dengan hari-hari biasa. Warga desa begitu serius mengikuti pelatihan tentang pengelolaan lingkungan yang dilakukan pemkab dan sebuah sekolah negeri.
Penyampaian materi dalam pelatihan itu langsung ditindaklanjuti dengan praktik. Materinya adalah mengelola sampah agar bisa dimanfaatkan. Untuk melengkapi pelatihan tersebut, warga mendapatkan bantuan komposter dari PJB (Pembangkit Jawa-Bali) PLN Gresik.
Pelatihan tersebut bagian dari upaya warga untuk menjadikan desa mereka sebagai desa adiwisata, desa yang asri dan ramah lingkungan. Program tersebut tergolong baru di Gresik. Belum banyak desa yang menerapkannya.
Munculnya ide tersebut tidak lepas dari keinginan warga dan aparat untuk memperbaiki kondisi lingkungan di desa itu. "Sebenarnya, program ini sudah kami rintis cukup lama. Tapi, saat ini lebih serius," kata Sekdes Kramat Inggil Jatmiko.
Menurut dia, program tersebut muncul dari keinginan mereka untuk bisa mengelola semua sampah. Pasalnya, saat ini warga kerap membuang sampah begitu saja. Hal itu sedikit banyak membuat lingkungan desa kurang tertata.
Dari situlah, akhirnya mereka mulai bergerak. Tahap pertama, mereka menyiapkan sebuah RT (rukun tetangga) binaan. Yakni, RT yang bakal jadi percontohan program desa adiwisata. "Yang terpilih adalah RT XII," katanya.
Saat ini, aktivitas perbaikan lingkungan di RT itu mulai terlihat. Warga mengumpulkan seluruh sampah yang dihasilkan. "Namun, masih banyak yang harus diperbaiki," imbuhnya.
Pengelolaan sampah kering masih tradisional. Mereka mengumpulkan sampah itu, lalu dijual. Sampah organik oleh warga dijadikan pupuk untuk menyuburkan tanaman.
Setelah RT binaan dipilih, desa membuat program lain. Kini, mereka mulai mengajak semua RT untuk mengikuti program serupa.
Caranya adalah meminta kepada PJB untuk mengucurkan dana CSR (corporate social responsibility) dalam bentuk pengadaan komposter yang dibagikan ke seluruh RT. Selain itu, mereka mengundang BLH (badan lingkungan hidup) dan SMPN 2 Kebomas untuk melatih penggunaan komposter serta program untuk menjadi sebuah desa adiwisata. "Kebetulan, SMPN 2 kan sekarang menjadi sekolah adiwiyata," katanya.
Selain itu, saat ini desa tersebut tengah menjajaki program baru. Mereka berencana membuat hutan desa di wilayah mereka. Untuk keperluan itu, mereka tengah melobi PT Petrokimia. Hasilnya, perusahaan tersebut sudah memberikan lampu hijau. "Yang jelas, kami ingin desa kami lebih baik," tegasnya. (ris/c6/ruk)
Jawa Pos_Metropolis [ Senin, 27 September 2010 ]
http://www.jawapos.com/metropolis/index.php?act=detail&nid=157176
SUASANA Kramat Inggil kemarin (26/9) sedikit lebih ramai jika dibandingkan dengan hari-hari biasa. Warga desa begitu serius mengikuti pelatihan tentang pengelolaan lingkungan yang dilakukan pemkab dan sebuah sekolah negeri.
Penyampaian materi dalam pelatihan itu langsung ditindaklanjuti dengan praktik. Materinya adalah mengelola sampah agar bisa dimanfaatkan. Untuk melengkapi pelatihan tersebut, warga mendapatkan bantuan komposter dari PJB (Pembangkit Jawa-Bali) PLN Gresik.
Pelatihan tersebut bagian dari upaya warga untuk menjadikan desa mereka sebagai desa adiwisata, desa yang asri dan ramah lingkungan. Program tersebut tergolong baru di Gresik. Belum banyak desa yang menerapkannya.
Munculnya ide tersebut tidak lepas dari keinginan warga dan aparat untuk memperbaiki kondisi lingkungan di desa itu. "Sebenarnya, program ini sudah kami rintis cukup lama. Tapi, saat ini lebih serius," kata Sekdes Kramat Inggil Jatmiko.
Menurut dia, program tersebut muncul dari keinginan mereka untuk bisa mengelola semua sampah. Pasalnya, saat ini warga kerap membuang sampah begitu saja. Hal itu sedikit banyak membuat lingkungan desa kurang tertata.
Dari situlah, akhirnya mereka mulai bergerak. Tahap pertama, mereka menyiapkan sebuah RT (rukun tetangga) binaan. Yakni, RT yang bakal jadi percontohan program desa adiwisata. "Yang terpilih adalah RT XII," katanya.
Saat ini, aktivitas perbaikan lingkungan di RT itu mulai terlihat. Warga mengumpulkan seluruh sampah yang dihasilkan. "Namun, masih banyak yang harus diperbaiki," imbuhnya.
Pengelolaan sampah kering masih tradisional. Mereka mengumpulkan sampah itu, lalu dijual. Sampah organik oleh warga dijadikan pupuk untuk menyuburkan tanaman.
Setelah RT binaan dipilih, desa membuat program lain. Kini, mereka mulai mengajak semua RT untuk mengikuti program serupa.
Caranya adalah meminta kepada PJB untuk mengucurkan dana CSR (corporate social responsibility) dalam bentuk pengadaan komposter yang dibagikan ke seluruh RT. Selain itu, mereka mengundang BLH (badan lingkungan hidup) dan SMPN 2 Kebomas untuk melatih penggunaan komposter serta program untuk menjadi sebuah desa adiwisata. "Kebetulan, SMPN 2 kan sekarang menjadi sekolah adiwiyata," katanya.
Selain itu, saat ini desa tersebut tengah menjajaki program baru. Mereka berencana membuat hutan desa di wilayah mereka. Untuk keperluan itu, mereka tengah melobi PT Petrokimia. Hasilnya, perusahaan tersebut sudah memberikan lampu hijau. "Yang jelas, kami ingin desa kami lebih baik," tegasnya. (ris/c6/ruk)
Jawa Pos_Metropolis [ Senin, 27 September 2010 ]
http://www.jawapos.com/metropolis/index.php?act=detail&nid=157176
Kamis, 23 September 2010
Belum Bisa Atasi Banjir
GRESIK - Belum maksimalnya program perbaikan infrastruktur membuat problem banjir di wilayah perkotaan masih sulit diatasi. Buktinya, hujan sekitar sejam di wilayah kota kemarin membuat beberapa titik di kawasan tengah kota kebanjiran.
Di perempatan Jalan Darmo Sugondo, misalnya, genangan air terjadi karena saluran yang disiapkan tidak mampu menampung air hujan. Genangan air cukup dalam mencapai mata kaki orang dewasa. ''Padahal, hujan tidak terlalu deras. Bagaimana kalau hujan deras?'' keluh seorang warga di sekitar lokasi.
Genangan juga terjadi di beberapa titik lain. Misalnya, di jalanan sekitaran Pasar Sidomoro. Luberan air hujan tidak bisa tertampung di saluran sekitar jalan itu. Kondisi yang sama terjadi di kawasan sekitar alun-alun.
Kawasan lain yang kerap menjadi langganan banjir adalah sepanjang Jalan Mayjen Sungkono yang notabene kawasan industri. ''Kalau pas deras, ketinggian air bisa mencapai 60 cm,'' kata Agus, warga Kelurahan Sukorejo.
Kepala Dinas PU Bina Marga Tugas Husni mengakui bahwa beberapa wilayah perkotaan di Gresik masih rawan banjir. Menurut dia, kondisi itu tidak lepas dari belum maksimalnya program perbaikan saluran. ''Kendalanya pada anggaran. Kami harus menetapkan prioritas perbaikan,'' katanya.
Saat ini, ada beberapa perbaikan yang tengah dilakukan. Misalnya, di wilayah Jalan Mayjen Sungkono, dinas PU sedang menggarap revitalisasi saluran. ''Saat ini masih berjalan,'' ungkapnya.
Selain itu, dinas tersebut tengah menggeber beberapa proyek lain. Hanya, karena belum merata, problem tersebut masih harus dituntaskan secara bertahap. ''Sebenarnya, saat ini kondisinya sudah cukup maksimal. Beberapa kawasan yang dulu langganan banjir sudah bisa teratasi. Semua tentu harus dilakukan secara bertahap,'' ujarnya. (ris/c5/ruk)
Jawa Pos_Metropolis [ Kamis, 23 September 2010 ]
http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=156450
Di perempatan Jalan Darmo Sugondo, misalnya, genangan air terjadi karena saluran yang disiapkan tidak mampu menampung air hujan. Genangan air cukup dalam mencapai mata kaki orang dewasa. ''Padahal, hujan tidak terlalu deras. Bagaimana kalau hujan deras?'' keluh seorang warga di sekitar lokasi.
Genangan juga terjadi di beberapa titik lain. Misalnya, di jalanan sekitaran Pasar Sidomoro. Luberan air hujan tidak bisa tertampung di saluran sekitar jalan itu. Kondisi yang sama terjadi di kawasan sekitar alun-alun.
Kawasan lain yang kerap menjadi langganan banjir adalah sepanjang Jalan Mayjen Sungkono yang notabene kawasan industri. ''Kalau pas deras, ketinggian air bisa mencapai 60 cm,'' kata Agus, warga Kelurahan Sukorejo.
Kepala Dinas PU Bina Marga Tugas Husni mengakui bahwa beberapa wilayah perkotaan di Gresik masih rawan banjir. Menurut dia, kondisi itu tidak lepas dari belum maksimalnya program perbaikan saluran. ''Kendalanya pada anggaran. Kami harus menetapkan prioritas perbaikan,'' katanya.
Saat ini, ada beberapa perbaikan yang tengah dilakukan. Misalnya, di wilayah Jalan Mayjen Sungkono, dinas PU sedang menggarap revitalisasi saluran. ''Saat ini masih berjalan,'' ungkapnya.
Selain itu, dinas tersebut tengah menggeber beberapa proyek lain. Hanya, karena belum merata, problem tersebut masih harus dituntaskan secara bertahap. ''Sebenarnya, saat ini kondisinya sudah cukup maksimal. Beberapa kawasan yang dulu langganan banjir sudah bisa teratasi. Semua tentu harus dilakukan secara bertahap,'' ujarnya. (ris/c5/ruk)
Jawa Pos_Metropolis [ Kamis, 23 September 2010 ]
http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=156450
Sabtu, 04 September 2010
Bendung Gerak Sembayat Molor Pemkab Gresik Tak Mampu Sediakan Rp 50 Miliar untuk Bebaskan Lahan
GRESIK - Pembangunan Bendung Gerak Sembayat (New Sembayat Barrage) di Desa Sukowati, Kecamatan Bungah, dipastikan molor lagi. Sebab, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik tidak mempunyai cukup anggaran untuk membebaskan lahan seluas 90 hektare dan mengalihkan 700 makam. Untuk dua keperluan itu, pemkab setidaknya harus menyiapkan dana sebesar Rp 50 miliar.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gresik M. Najib menyatakan, proyek pembangunan Bendung Gerak Sembayat itu dibiayai oleh pemerintah pusat. Anggaran yang disediakan sekitar Rp 1,3 triliun. Namun, dana dari pusat tersebut digunakan untuk keperluan konstruksinya. ''Daerah dibebani pembebasan lahan yang diperlukan,'' tutur Najib.
Pembangunan Bendung Gerak Sembayat di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo membutuhkan lahan seluas 90 hektare. Rinciannya, 10 hektare di Lamongan dan 80 hektare di Gresik.
Saat ini status kepemilikan puluhan hektare lahan tersebut adalah hak milik warga. "Untuk bisa menggunakannya, pemerintah harus melakukan upaya pembebasan dengan memberikan ganti rugi," ujar Najib.
Dia memprediksi, nilai jual objek pajak (NJOP) lahan di wilayah tersebut Rp 40 ribu-50 ribu per meter persegi. ''Dengan perhitungan tersebut, setidaknya dibutuhkan dana untuk ganti rugi sebesar Rp 40 miliar. Anggaran kita akan habis untuk pembebasan lahan itu saja," kata Najib.
Itu belum termasuk kemungkinan ada pemohonan lebih. Selain itu, Pemkab Gresik akan memindahkan 700 makam karena terkena proyek tersebut.
Pembebanan sepenuhnya biaya pembebasan lahan kepada Pemkab Gresik tentu sangat berat. Seharusnya, sharing 50 : 25 : 25. Artinya, 50 persen pusat, sedangkan pemprov dan pemkab masing-masing 25 persen. "Pemprov memang sudah sepakat untuk membantu Rp 10 miliar. Dana bantuan tersebut bakal dianggarkan pada APBD 2011," terang mantan Asisten III Bidang Pembangunan itu.
Pembangunan Bendung Gerak Sembayat bisa disebut sebagai proyek prestisius. Megaproyek tersebut diperkirakan tidak hanya mampu menanggulangi banjir luapan air Bengawan Solo, tapi juga sebagai pemicu pertumbuhan industri di Gresik utara.
Bendungan tersebut juga akan berfungsi sebagai instalasi pengelolaan air bersih dengan kapasitas 1.109 meter kubik per detik. Juga, bisa mengairi sawah seluas 883 hektare dan 3.990 hektare tambak. (yad/c13/ruk)
Jawa Pos_Metropolis [ Sabtu, 04 September 2010 ]
http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=153677
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gresik M. Najib menyatakan, proyek pembangunan Bendung Gerak Sembayat itu dibiayai oleh pemerintah pusat. Anggaran yang disediakan sekitar Rp 1,3 triliun. Namun, dana dari pusat tersebut digunakan untuk keperluan konstruksinya. ''Daerah dibebani pembebasan lahan yang diperlukan,'' tutur Najib.
Pembangunan Bendung Gerak Sembayat di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo membutuhkan lahan seluas 90 hektare. Rinciannya, 10 hektare di Lamongan dan 80 hektare di Gresik.
Saat ini status kepemilikan puluhan hektare lahan tersebut adalah hak milik warga. "Untuk bisa menggunakannya, pemerintah harus melakukan upaya pembebasan dengan memberikan ganti rugi," ujar Najib.
Dia memprediksi, nilai jual objek pajak (NJOP) lahan di wilayah tersebut Rp 40 ribu-50 ribu per meter persegi. ''Dengan perhitungan tersebut, setidaknya dibutuhkan dana untuk ganti rugi sebesar Rp 40 miliar. Anggaran kita akan habis untuk pembebasan lahan itu saja," kata Najib.
Itu belum termasuk kemungkinan ada pemohonan lebih. Selain itu, Pemkab Gresik akan memindahkan 700 makam karena terkena proyek tersebut.
Pembebanan sepenuhnya biaya pembebasan lahan kepada Pemkab Gresik tentu sangat berat. Seharusnya, sharing 50 : 25 : 25. Artinya, 50 persen pusat, sedangkan pemprov dan pemkab masing-masing 25 persen. "Pemprov memang sudah sepakat untuk membantu Rp 10 miliar. Dana bantuan tersebut bakal dianggarkan pada APBD 2011," terang mantan Asisten III Bidang Pembangunan itu.
Pembangunan Bendung Gerak Sembayat bisa disebut sebagai proyek prestisius. Megaproyek tersebut diperkirakan tidak hanya mampu menanggulangi banjir luapan air Bengawan Solo, tapi juga sebagai pemicu pertumbuhan industri di Gresik utara.
Bendungan tersebut juga akan berfungsi sebagai instalasi pengelolaan air bersih dengan kapasitas 1.109 meter kubik per detik. Juga, bisa mengairi sawah seluas 883 hektare dan 3.990 hektare tambak. (yad/c13/ruk)
Jawa Pos_Metropolis [ Sabtu, 04 September 2010 ]
http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=153677
Kamis, 26 Agustus 2010
Peneliti Belgia Amati Industrialisasi dan Dampaknya di Gresik
Kondisi itu menarik peneliti asal Belgia Erik Jeneester mengamati masalah perburuhan di Kota Giri tersebut. Hasilnya, masih banyak persoalan pada bidang industri dan perburuhan di Gresik. (ARIS IMAM)
Jarum jam menunjukkan pukul 23.00. Suasana di Balai Desa Sukomulyo, Kecamatan Kebomas, terlihat ramai. Beberapa orang begitu asyik mendengarkan cerita seorang bule yang tengah berkunjung ke sana.
Dia adalah Erik Jeneester, seorang peneliti dari General nion Workers of Belgium (GUWB), organisasi perburuhan asal Belgia. Organisasi itu memiliki hubungan dengan Uni Eropa. Di hadapan warga yang tinggal di sekitar pabrik, Erik memaparkan hasil pengamatannya.
Dia mendatangi beberapa kawasan industri di Gresik. Dia juga diundang Kepala Desa Sukomulyo Fatkhur Rohman untuk melihat langsung kondisi di Sukomulyo yang merupakan kawasan pabrik.
Banyak hal yang dia peroleh setelah mengamati kondisi pabrik-pabrik dan dunia ketenagakerjaan di wilayah Kota Giri. '''Persoalan terkait industrialisasi di kota ini tidak jauh berbeda dengan yang ada di Eropa,'' kata Erik.
Dia melihat masih banyak persoalan pelik di balik dunia industri di Gresik. Salah satu yang paling memprihatinkan adalah kondisi lingkungan di kawasan pabrik yang, menurut dia, rusak.
Dia mencontohkan, kondisi Kali Lamong di Desa Sukomulyo. Dia sempat mampir ke Kali Lamong dan benar-benar prihatin dengan kondisi sungai tersebut. ''Itu sangat buruk. Bagaimana mungkin kerusakannya seperti itu?'' katanya.
Menurut Erik, buruknya kondisi Kali Lamong tidak terlepas dari minimnya kepedulian perusahaan sekitar terhadap lingkungannya. ''Saya juga menemukan banyak kerusakan alam di sekitar industri lain yang ada di sini,'' ujatnya.
Selain itu, dia melakukan penelitian terhadap kondisi pekerja-pekerja di wilayah Gresik. ''Untuk masalah kesejahteraan, kondisinya sama dengan di Eropa. Masih banyak kesenjangan,'' tuturnya.
Pria berusia 46 tahun itu sudah hampir tiga minggu berada di Indonesia. Dalam penelitiannya, Erik mendatangi beberapa kota di Indonesia. Di antaranya, Bandung, Bogor, Tangerang, Surabaya, dan Malang.
Secara umum, dia menilai, kondisi perindustrian di Gresik tidak jauh berbeda dengan daerah lain. Masih banyak persoalan. Hanya, ada beberapa hal yang membuat dia cukup kerasan di Gresik. ''Saya suka dengan budaya ngopi di sini. Selain itu, keramahan warga Gresik benar-benar membuat saya senang,'' katanya.
Menurut Erik, hasil penelitian itu nanti dibawa lembaganya ke Uni Eropa. ''Dari situlah, Uni Eropa akan membuat langkah strategis untuk menindaklanjuti semua temuan,'' ungkapnya. (*c4/ruk)
Jawa Pos_Metropolis [Kamis, 26 Agustus 2010]
http://www.jawapos.com/metropolis/index.php?act=detail&nid=152304
Jarum jam menunjukkan pukul 23.00. Suasana di Balai Desa Sukomulyo, Kecamatan Kebomas, terlihat ramai. Beberapa orang begitu asyik mendengarkan cerita seorang bule yang tengah berkunjung ke sana.
Dia adalah Erik Jeneester, seorang peneliti dari General nion Workers of Belgium (GUWB), organisasi perburuhan asal Belgia. Organisasi itu memiliki hubungan dengan Uni Eropa. Di hadapan warga yang tinggal di sekitar pabrik, Erik memaparkan hasil pengamatannya.
Dia mendatangi beberapa kawasan industri di Gresik. Dia juga diundang Kepala Desa Sukomulyo Fatkhur Rohman untuk melihat langsung kondisi di Sukomulyo yang merupakan kawasan pabrik.
Banyak hal yang dia peroleh setelah mengamati kondisi pabrik-pabrik dan dunia ketenagakerjaan di wilayah Kota Giri. '''Persoalan terkait industrialisasi di kota ini tidak jauh berbeda dengan yang ada di Eropa,'' kata Erik.
Dia melihat masih banyak persoalan pelik di balik dunia industri di Gresik. Salah satu yang paling memprihatinkan adalah kondisi lingkungan di kawasan pabrik yang, menurut dia, rusak.
Dia mencontohkan, kondisi Kali Lamong di Desa Sukomulyo. Dia sempat mampir ke Kali Lamong dan benar-benar prihatin dengan kondisi sungai tersebut. ''Itu sangat buruk. Bagaimana mungkin kerusakannya seperti itu?'' katanya.
Menurut Erik, buruknya kondisi Kali Lamong tidak terlepas dari minimnya kepedulian perusahaan sekitar terhadap lingkungannya. ''Saya juga menemukan banyak kerusakan alam di sekitar industri lain yang ada di sini,'' ujatnya.
Selain itu, dia melakukan penelitian terhadap kondisi pekerja-pekerja di wilayah Gresik. ''Untuk masalah kesejahteraan, kondisinya sama dengan di Eropa. Masih banyak kesenjangan,'' tuturnya.
Pria berusia 46 tahun itu sudah hampir tiga minggu berada di Indonesia. Dalam penelitiannya, Erik mendatangi beberapa kota di Indonesia. Di antaranya, Bandung, Bogor, Tangerang, Surabaya, dan Malang.
Secara umum, dia menilai, kondisi perindustrian di Gresik tidak jauh berbeda dengan daerah lain. Masih banyak persoalan. Hanya, ada beberapa hal yang membuat dia cukup kerasan di Gresik. ''Saya suka dengan budaya ngopi di sini. Selain itu, keramahan warga Gresik benar-benar membuat saya senang,'' katanya.
Menurut Erik, hasil penelitian itu nanti dibawa lembaganya ke Uni Eropa. ''Dari situlah, Uni Eropa akan membuat langkah strategis untuk menindaklanjuti semua temuan,'' ungkapnya. (*c4/ruk)
Jawa Pos_Metropolis [Kamis, 26 Agustus 2010]
http://www.jawapos.com/metropolis/index.php?act=detail&nid=152304
Sabtu, 21 Agustus 2010
Kondisi Kali Lamong Makin Parah
GRESIK - Kondisi Kali Lamong makin memprihatinkan. Lebar sungai terus menyempit dan dasar sungai semakin dangkal. Penyempitan tersebut semakin parah sehingga lebar batang sungai tinggal separo.
Kualitas airnya pun tidak kalah menyedihkan. Tingkat pencemarannya begitu tinggi sehingga beberapa kali ditemukan ikan yang mati. Hal itu terjadi karena banyaknya kawasan industri di tepi sungai tersebut. Juga, lokasinya berdekatan dengan lokasi pembuangan akhir (LPA) sampah Surabaya di Benowo.
Di musim hujan, sungai tersebut menjadi sumber bencana. Akibat pendangkalan dasar, sungai itu tidak mampu menampung air hujan sehingga airnya meluap ke permukiman di sekitarnya. "Sebenarnya, masalah ini sudah lama dikeluhkan warga. Tapi, kenapa tidak pernah ada perbaikan sama sekali?" kata Kades Sukorejo Fatkhur Rohman kemarin (20/8).
Menurut dia, buruknya kondisi Kali Lamong sebenarnya sudah lama terjadi. Dia bahkan sudah berkali-kali mengajukan permintaan agar sungai tersebut diperbaiki. "Tapi, ternyata sampai hari ini tidak pernah ada sedikit pun perbaikan," tuturnya.
Merasa tidak pernah mendapatkan respons positif, aparat desa berencana mengajukan protes ke Pemkab Gresik. "Segera kami layangkan. Kami berharap ada respons," katanya.
Berdasar hasil penelitian kualitas air, Kali Lamong memang termasuk yang buruk. Ada tiga sungai yang diteliti, yaitu Bengawan Solo, Kali Lamong, dan Kali Tengah.
Hasilnya sama. Air Bengawan Solo mengandung BOD 5,1 mg/liter, 2 mg/liter lebih tinggi daripada ambang batas. (c7/ruk)
Jawa Pos_Metropolis [ Sabtu, 21 Agustus 2010 ]
http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=151540
Kualitas airnya pun tidak kalah menyedihkan. Tingkat pencemarannya begitu tinggi sehingga beberapa kali ditemukan ikan yang mati. Hal itu terjadi karena banyaknya kawasan industri di tepi sungai tersebut. Juga, lokasinya berdekatan dengan lokasi pembuangan akhir (LPA) sampah Surabaya di Benowo.
Di musim hujan, sungai tersebut menjadi sumber bencana. Akibat pendangkalan dasar, sungai itu tidak mampu menampung air hujan sehingga airnya meluap ke permukiman di sekitarnya. "Sebenarnya, masalah ini sudah lama dikeluhkan warga. Tapi, kenapa tidak pernah ada perbaikan sama sekali?" kata Kades Sukorejo Fatkhur Rohman kemarin (20/8).
Menurut dia, buruknya kondisi Kali Lamong sebenarnya sudah lama terjadi. Dia bahkan sudah berkali-kali mengajukan permintaan agar sungai tersebut diperbaiki. "Tapi, ternyata sampai hari ini tidak pernah ada sedikit pun perbaikan," tuturnya.
Merasa tidak pernah mendapatkan respons positif, aparat desa berencana mengajukan protes ke Pemkab Gresik. "Segera kami layangkan. Kami berharap ada respons," katanya.
Berdasar hasil penelitian kualitas air, Kali Lamong memang termasuk yang buruk. Ada tiga sungai yang diteliti, yaitu Bengawan Solo, Kali Lamong, dan Kali Tengah.
Hasilnya sama. Air Bengawan Solo mengandung BOD 5,1 mg/liter, 2 mg/liter lebih tinggi daripada ambang batas. (c7/ruk)
Jawa Pos_Metropolis [ Sabtu, 21 Agustus 2010 ]
http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=151540
Langganan:
Postingan (Atom)