SURABAYA | SURYA Online - Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur meminta kepada pemerintah provinsi untuk meliburkan hari Selasa (16/11/2010), atau bersamaan dengan perayaan Idul Adha sebagaimana ketetapan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Sekretaris PWM Jatim, Nadjib Hamid mengatakan, pihaknya akan menemui Gubernur Jatim Soekarwo untuk memberi masukan agar meliburkan hari Selasa, dan memberikan kesempatan kepada warganya sholat id.
“Kami berharap gubernur bisa memberikan kesempatan itu. Dengan demikian, warga bisa tenang menjalankan sholat id dan tidak dikejar-kejar jam waktu masuk kantor,” ujarnya, Jumat (12/22/2010).
Hanya saja, kata dia, jika gubernur tidak memberikan izin, pihaknya berharap agar jam kantor, khususnya pegawai negeri sipil (PNS), bisa dimundurkan. “Ya minimal satu jam dari hari biasanya. Tapi, agar tidak merugikan pekerjaan, saat pulang kantor juga diundur satu jam. Jadi istilahnya, jam kerja dimundurkan satu jam, baik masuk maupun pulang,” tutur pria yang juga anggota KPU Jatim tersebut.
Di samping itu, pihaknya juga meminta kepada panitia sholat id untuk bisa lebih menggelar sholat lebih pagi dan khotbah atau ceramahnya dipersingkat.
Harapannya, lanjut dia, bisa memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk bekerja karena tidak mendapatkan jam libur. Selain itu, para siswa yang bersekolah di negeri bisa bersekolah seperti hari biasanya.
“Kalau Pemprov Jatim tidak meliburkan, artinya Selasa tetap masuk. Baik pegawai maupun para siswa tetap menjalankan aktivitasnya. Karena itu kami harap pemerintah bisa bertoleransi dan memberikan kesempatan untuk sholat id terlebih dahulu,” papar Nadjib.
“Kalau penyembelihan hewan qurban kan bisa dilakukan besoknya, atau lusa. Sebab dalam Islam diperbolehkan menyembelih hewan qurban pada Hari Tasyrik, atau tiga hari setelah hari raya,” katanya.
Seperti diketahui, Idul Adha tahun ini, Muhammadiyah dan pemerintah menetapkan waktu yang berbeda. Jika Muhammadiyah memastikan Idul Adha jatuh pada Selasa (16/11/2010), pemerintah menetapkan Rabu (17/11/2010).
Surya Online Jumat, 12 Nopember 2010 | 10:56 WIB
http://www.surya.co.id/2010/11/12/muhammadiyah-minta-pemerintah-liburkan-16-november.html
Jumat, 12 November 2010
Rabu, 10 November 2010
Bupati Gresik Usul UMK Rp 1,14 Juta Tengahi Konflik Buruh-Apindo
GRESIK - SURYA- Bupati Sambari Halim Radianto akhirnya mengambil jalan tengah, dengan menentukan besaran UMK 2011 sebesar Rp 1.149.200. Keputusan bupati tersebut, sudah dikirim ke Gubernur Jatim untuk menunggu penetapan.
Kabag Humas Andhy Hendro Wijaya mengatakan, bupati menetapkan angka itu diambil dari nilai tengah usulan Asosiasi Pengusaha Indonesia Gresik (Apindo) dan buruh.
Buruh minta UMK naik 15 persen, sedangkan Apindo hanya naik 8 persen. “Akhirnya bupati mengambil yang tengah, yaitu naik 13,7 persen. Usulan tersebut sudah dikirim ke gubernur 8 November lalu,” ujarnya.
Penetapan UMK 2011 tersebut juga mendasarkan pada hasil survei KHL yang dilakukan Dewan Pengupahan (DP) Kabupaten Gresik. Dalam survei pasar yang sudah mencatumkan biaya transportasi, maka nilai KHL-nya mencapai Rp 1.149.200.
“Artinya besaran UMK itu sebanding 100 persen dengan besaran KHL, seperti yang diminta para buruh,” tegas Andhy.
Usulan Bupati Sambari tersebut, berbeda dengan permintaan buruh sebesar Rp 1.160.000 atau naik 15 persen dari UMK 2010 sebesar Rp 1.010.400 per bulan.
Apindo Gresik tetap merasa keberatan, dengan besaran UMK tersebut. Sebab, usulan Bupati Sambari Halim Radianto itu tetap nilai tinggi. Sebab, Apindo selama ini mengusulkan kenaikan maksimal hanya 8 persen dari UMK 2010. Hal itu didasarkan pada pertumbuhan ekonomi Jawa Timur 6,5 persen, tingkat inflasi nasional 5,5 persen.
“Kalau tetap dipaksakan, kami tidak tanggungjawab bila banyak pengusaha hengkang dari Gresik,” kata Totok Santoso, Wakil Ketua Divisi Advokasi Apindo Gresik.
Apindo tetap menyesalkan sikap Bupati Sambari yang tidak melihat dari sisi pengusaha. Itu, sama saja dengan menelan janji kampanye saat pilbup lalu ingin menumbuhkan investasi.
“Nyatanya, bupati lebih takut tuntutan buruh dari pada menjaga iklim investasi di Gresik,” tukas Totok.(san)
Surya Online Rabu, 10 Nopember 2010 | 07:51 WIB
http://www.surya.co.id/2010/11/10/bupati-gresik-usul-umk-rp-114-juta.html
Kabag Humas Andhy Hendro Wijaya mengatakan, bupati menetapkan angka itu diambil dari nilai tengah usulan Asosiasi Pengusaha Indonesia Gresik (Apindo) dan buruh.
Buruh minta UMK naik 15 persen, sedangkan Apindo hanya naik 8 persen. “Akhirnya bupati mengambil yang tengah, yaitu naik 13,7 persen. Usulan tersebut sudah dikirim ke gubernur 8 November lalu,” ujarnya.
Penetapan UMK 2011 tersebut juga mendasarkan pada hasil survei KHL yang dilakukan Dewan Pengupahan (DP) Kabupaten Gresik. Dalam survei pasar yang sudah mencatumkan biaya transportasi, maka nilai KHL-nya mencapai Rp 1.149.200.
“Artinya besaran UMK itu sebanding 100 persen dengan besaran KHL, seperti yang diminta para buruh,” tegas Andhy.
Usulan Bupati Sambari tersebut, berbeda dengan permintaan buruh sebesar Rp 1.160.000 atau naik 15 persen dari UMK 2010 sebesar Rp 1.010.400 per bulan.
Apindo Gresik tetap merasa keberatan, dengan besaran UMK tersebut. Sebab, usulan Bupati Sambari Halim Radianto itu tetap nilai tinggi. Sebab, Apindo selama ini mengusulkan kenaikan maksimal hanya 8 persen dari UMK 2010. Hal itu didasarkan pada pertumbuhan ekonomi Jawa Timur 6,5 persen, tingkat inflasi nasional 5,5 persen.
“Kalau tetap dipaksakan, kami tidak tanggungjawab bila banyak pengusaha hengkang dari Gresik,” kata Totok Santoso, Wakil Ketua Divisi Advokasi Apindo Gresik.
Apindo tetap menyesalkan sikap Bupati Sambari yang tidak melihat dari sisi pengusaha. Itu, sama saja dengan menelan janji kampanye saat pilbup lalu ingin menumbuhkan investasi.
“Nyatanya, bupati lebih takut tuntutan buruh dari pada menjaga iklim investasi di Gresik,” tukas Totok.(san)
Surya Online Rabu, 10 Nopember 2010 | 07:51 WIB
http://www.surya.co.id/2010/11/10/bupati-gresik-usul-umk-rp-114-juta.html
Selasa, 09 November 2010
Tenaga Honorer untuk CPNS Dipungli Rp 1,8 Juta
Gresik - Surya- Puluhan tenaga kerja mandiri (TKM) alias tenaga honorer di lingkungan Pemkab Gresik mengaku dipungli sekitar Rp 1,8 juta, dengan dalih untuk biaya pemberkasan dokumen mereka untuk diangkat sebagai PNS.
Informasi yang dikumpulkan di pemkab, bulan November 2010 pemkab melalui Badan Kepegawaian Daerah (BKD) akan mengusulkan ke BKN pengangkatan tenaga honorer sebagai PNS. Untuk melengkapi dokumen yang sudah masuk di data base, BKD meminta sejumlah SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah) yang mempekerjakan TKM melakukan pemberkasan. Pemberkasan adalah melengkapi data TKM yang ada di data base BKD.
Data yang ada hanya sebatas nama, alamat, usia dan hal-hal yang normatif. Sedangkan yang ditambahkan antara lain bukti surat kontrak dari masing-masing SKPD dan bukti pembayaran honor setiap bulan sejak dikontrak.
Seorang TKM yang bertugas di salah satu dinas Pemkab Gresik mengaku, diminta oleh atasannya menyetor Rp 1,8 juta biaya percepatan pemberkasan agar bisa segera diproses BKD dan dikirim ke BKN. TKM yang tidak mau disebut namanya itu mengaku, dari data yang dikumpulkannya ternyata yang sudah membayar dana pemberkasan sebanyak 11 orang termasuk dirinya. “Perintahnya sama, menyetor Rp 1,8 juta agar prosesnya lebih cepat dan diterima sebagai PNS,” ujarnya.
Kepala Bagian Humas Pemkab Gresik, Andhy Hendro Wijaya membantah. Menurutnya pemberkasan TKM untuk menjadi PNS tidak dipungut biaya. Sebab, BKD hanya meminta penambahan data dari masing-masing satker tempat dimana TKM tersebut bertugas. “Tidak ada dana untuk pemberkasan TKM,” tegasnya.nsan
Surya Online Selasa, 9 Nopember 2010 | 08:02 WIB
http://www.surya.co.id/2010/11/09/honorer-dipungli-rp-18-juta.html
Informasi yang dikumpulkan di pemkab, bulan November 2010 pemkab melalui Badan Kepegawaian Daerah (BKD) akan mengusulkan ke BKN pengangkatan tenaga honorer sebagai PNS. Untuk melengkapi dokumen yang sudah masuk di data base, BKD meminta sejumlah SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah) yang mempekerjakan TKM melakukan pemberkasan. Pemberkasan adalah melengkapi data TKM yang ada di data base BKD.
Data yang ada hanya sebatas nama, alamat, usia dan hal-hal yang normatif. Sedangkan yang ditambahkan antara lain bukti surat kontrak dari masing-masing SKPD dan bukti pembayaran honor setiap bulan sejak dikontrak.
Seorang TKM yang bertugas di salah satu dinas Pemkab Gresik mengaku, diminta oleh atasannya menyetor Rp 1,8 juta biaya percepatan pemberkasan agar bisa segera diproses BKD dan dikirim ke BKN. TKM yang tidak mau disebut namanya itu mengaku, dari data yang dikumpulkannya ternyata yang sudah membayar dana pemberkasan sebanyak 11 orang termasuk dirinya. “Perintahnya sama, menyetor Rp 1,8 juta agar prosesnya lebih cepat dan diterima sebagai PNS,” ujarnya.
Kepala Bagian Humas Pemkab Gresik, Andhy Hendro Wijaya membantah. Menurutnya pemberkasan TKM untuk menjadi PNS tidak dipungut biaya. Sebab, BKD hanya meminta penambahan data dari masing-masing satker tempat dimana TKM tersebut bertugas. “Tidak ada dana untuk pemberkasan TKM,” tegasnya.nsan
Surya Online Selasa, 9 Nopember 2010 | 08:02 WIB
http://www.surya.co.id/2010/11/09/honorer-dipungli-rp-18-juta.html
Senin, 08 November 2010
Banjir Gresik Semakin Meluas
Bupati Sambari dan Wakil Bupati Qosim Ikut Berbasah-basah
Gresik - Surya- Banjir akibat meluapnya Kali Lamong semakin meluas. Bila sebelumnya hanya menggenangi Kecamatan Balongpanggang, Kecamatan Benjeng, dan Kecamatan Menganti, kini meluas hingga Kecamatan Cerme dan Kecamatan Kedamean dengan cakupan desa lebih dari 30 desa.
Data Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (Satlak PBP) Kabupaten Gresik menyebutkan di Kecamatan Kedamean terdapat tiga desa yang terendam air dengan ketinggian 25 sentimeter, yaitu, Desa Cermen Lerek, Desa Glindah, dan Desa Lampah. Di Kecamatan Menganti meliputi Desa Boboh dan Desa Kepatihan.
Sedangkan di Kecamatan Benjeng, sedikitnya ada 14 desa yang terendam masing-masing Desa Sedapurklagen, Deliksumber, Munggugianti, Kedungrukem, Klampok, Bengkelolor, Kalipadang, Lundo, Sirnoboyo, Karangankidul, Bulangkulon, Dermo, Bulurejo, dan Desa Kedungsekar. “Untuk air di Kecamatan Benjeng mulai surut. Air bergeser ke Kecamatan Cerme,” ujar Suryo Wibowo, Camat Benjeng, Minggu (7/11).
Kondisi terparah dirasakan warga di 14 desa di Kecamatan Cerme. Sebab, hingga Minggu (7/11) petang kemarin, ketinggian air masih sekitar 1 meter. Ke-14 desa yang terendam
adalah Desa Lengkong, Dampaan, Dooro, Dadapkuning, Burang Anyar, Morowudi, Iker-Iker Geger, Dungus, Betiting, Suko Anyar, Jono, Pandu, Landean, dan Desa Kandangan.
Khusus di Kecamatan Cerme, Satlak BPB Gresik mencatat, dari 14 desa jumlah rumah warga yang terendam sebanyak 2.175 unit, sawah seluas 568 hektare dan tambak seluas 274 hektare. “Kerugian kami taksir mencapai Rp 945 juta,” aku Suryo Wibowo, yang juga pelaksana tugas (PLT) Camat Cerme.
Bahkan, di pertigaan Desa Morowudi banjir merendam jalan raya. Akibatnya, jalur menuju dari Gresik Menganti dan Balongpanggang untuk sementara dialihkan melalui Desa Metatu.(Kec. Benjeng)
Diprediksi, banjir luapan Kali Lamong bakal terjadi lagi. Mengingat sampai saat ini wilayah Mojokerto, Jombang, dan Lamongan terjadi hujan yang cukup deras. Bila banjir masih terjadi, warga akan semakin merugi. Sebab, sawah yang baru ditanami akan mengalami puso.
Padahal, di Kecamatan Benjeng sebanyak 4.612 rumah yang terendam air dengan ketinggian hingga 1 meter. Kemudian 1.033 hektare sawah milik warga yang tergenang air dengan total kerugian diperkirakan Rp 1,9 miliar.
Sekretaris Satlak BPB Gresik, Wafik, memperkirakan kendati sampai saat ini air di Kecamatan Balongpanggang dan Benjeng mulai menyusut dan berpindah ke Kecamatan Cerme, namun ancaman banjir susulan tetap ada. Sebab, sampai saat ini ada sekitar 6 kilometer tanggul Kali Lamong di wilayah Benjeng yang belum diperbaiki.
“Biasanya satu tahun bisa sampai 15 kali banjir. Kami sudah mengajukan permohonan bantuan ke Pemprov untuk membangun tanggul Kali Lamong, namun tetap belum ada respons,” akunya.
SQ Ikut Berbasah-basah
Beberapa jam setelah mendapat kabar sejumlah desa kebanjiran, Bupati Gresik Dr Ir Sambari Halim Radianto ST MSi dan Wabup Drs HM Qosim MSi didampingi sejumlah staf, langsung turun ke lokasi banjir, Sabtu (6/11) sore.
Tanpa ragu-ragu, kedua petinggi Pemkab Gresik itu langsung melepas sepatu lalu ikut berbasah-basah dengan warga yang rumahnya kebanjiran. Selain memberi arahan untuk stafnya, Sambari - Qosim juga menyambangi warganya di sejumlah desa yang kebanjiran hingga lutut orang dewasa.
Menurut Bupati Sambari, banjir ini tidak bisa ditangani sendiri-sendiri karena menyangkut banyak pihak (dinas) maupun daerah lain. “Ke depan kami akan berkoordinasi dengan pihak DAS Solo untuk penanganan banjir ini agar lebih terpadu,” ujar Bupati Sambari saat memberikan bantuan untuk warga di Pendopo Kecamatan Benjeng.
Kabag Humas Pemkab Gresik, Andhy Hendro Wijaya menambahkan, untuk sementara bantuan untuk Kecamatan Benjeng berupa 200 dus mi instan dan 150 dus air kemasan, Kecamatan Balongpangang 100 dus mi instan dan 50 dus air kemasan. PBP Gresik juga menyiapkan 2.000 karung plastik.” Kami belum mengirimkan bantuan beras karena kami belum koordinasi dengan Bulog. Rencananya Senin besok, kami akan mengirimkan beras ke daerah banjir,” tambah Andhy. (San)
Surya Online Senin, 8 Nopember 2010 | 08:50 WI
http://www.surya.co.id/2010/11/08/banjir-gresik-semakin-meluas.html
Gresik - Surya- Banjir akibat meluapnya Kali Lamong semakin meluas. Bila sebelumnya hanya menggenangi Kecamatan Balongpanggang, Kecamatan Benjeng, dan Kecamatan Menganti, kini meluas hingga Kecamatan Cerme dan Kecamatan Kedamean dengan cakupan desa lebih dari 30 desa.
Data Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (Satlak PBP) Kabupaten Gresik menyebutkan di Kecamatan Kedamean terdapat tiga desa yang terendam air dengan ketinggian 25 sentimeter, yaitu, Desa Cermen Lerek, Desa Glindah, dan Desa Lampah. Di Kecamatan Menganti meliputi Desa Boboh dan Desa Kepatihan.
Sedangkan di Kecamatan Benjeng, sedikitnya ada 14 desa yang terendam masing-masing Desa Sedapurklagen, Deliksumber, Munggugianti, Kedungrukem, Klampok, Bengkelolor, Kalipadang, Lundo, Sirnoboyo, Karangankidul, Bulangkulon, Dermo, Bulurejo, dan Desa Kedungsekar. “Untuk air di Kecamatan Benjeng mulai surut. Air bergeser ke Kecamatan Cerme,” ujar Suryo Wibowo, Camat Benjeng, Minggu (7/11).
Kondisi terparah dirasakan warga di 14 desa di Kecamatan Cerme. Sebab, hingga Minggu (7/11) petang kemarin, ketinggian air masih sekitar 1 meter. Ke-14 desa yang terendam
adalah Desa Lengkong, Dampaan, Dooro, Dadapkuning, Burang Anyar, Morowudi, Iker-Iker Geger, Dungus, Betiting, Suko Anyar, Jono, Pandu, Landean, dan Desa Kandangan.
Khusus di Kecamatan Cerme, Satlak BPB Gresik mencatat, dari 14 desa jumlah rumah warga yang terendam sebanyak 2.175 unit, sawah seluas 568 hektare dan tambak seluas 274 hektare. “Kerugian kami taksir mencapai Rp 945 juta,” aku Suryo Wibowo, yang juga pelaksana tugas (PLT) Camat Cerme.
Bahkan, di pertigaan Desa Morowudi banjir merendam jalan raya. Akibatnya, jalur menuju dari Gresik Menganti dan Balongpanggang untuk sementara dialihkan melalui Desa Metatu.(Kec. Benjeng)
Diprediksi, banjir luapan Kali Lamong bakal terjadi lagi. Mengingat sampai saat ini wilayah Mojokerto, Jombang, dan Lamongan terjadi hujan yang cukup deras. Bila banjir masih terjadi, warga akan semakin merugi. Sebab, sawah yang baru ditanami akan mengalami puso.
Padahal, di Kecamatan Benjeng sebanyak 4.612 rumah yang terendam air dengan ketinggian hingga 1 meter. Kemudian 1.033 hektare sawah milik warga yang tergenang air dengan total kerugian diperkirakan Rp 1,9 miliar.
Sekretaris Satlak BPB Gresik, Wafik, memperkirakan kendati sampai saat ini air di Kecamatan Balongpanggang dan Benjeng mulai menyusut dan berpindah ke Kecamatan Cerme, namun ancaman banjir susulan tetap ada. Sebab, sampai saat ini ada sekitar 6 kilometer tanggul Kali Lamong di wilayah Benjeng yang belum diperbaiki.
“Biasanya satu tahun bisa sampai 15 kali banjir. Kami sudah mengajukan permohonan bantuan ke Pemprov untuk membangun tanggul Kali Lamong, namun tetap belum ada respons,” akunya.
SQ Ikut Berbasah-basah
Beberapa jam setelah mendapat kabar sejumlah desa kebanjiran, Bupati Gresik Dr Ir Sambari Halim Radianto ST MSi dan Wabup Drs HM Qosim MSi didampingi sejumlah staf, langsung turun ke lokasi banjir, Sabtu (6/11) sore.
Tanpa ragu-ragu, kedua petinggi Pemkab Gresik itu langsung melepas sepatu lalu ikut berbasah-basah dengan warga yang rumahnya kebanjiran. Selain memberi arahan untuk stafnya, Sambari - Qosim juga menyambangi warganya di sejumlah desa yang kebanjiran hingga lutut orang dewasa.
Menurut Bupati Sambari, banjir ini tidak bisa ditangani sendiri-sendiri karena menyangkut banyak pihak (dinas) maupun daerah lain. “Ke depan kami akan berkoordinasi dengan pihak DAS Solo untuk penanganan banjir ini agar lebih terpadu,” ujar Bupati Sambari saat memberikan bantuan untuk warga di Pendopo Kecamatan Benjeng.
Kabag Humas Pemkab Gresik, Andhy Hendro Wijaya menambahkan, untuk sementara bantuan untuk Kecamatan Benjeng berupa 200 dus mi instan dan 150 dus air kemasan, Kecamatan Balongpangang 100 dus mi instan dan 50 dus air kemasan. PBP Gresik juga menyiapkan 2.000 karung plastik.” Kami belum mengirimkan bantuan beras karena kami belum koordinasi dengan Bulog. Rencananya Senin besok, kami akan mengirimkan beras ke daerah banjir,” tambah Andhy. (San)
Surya Online Senin, 8 Nopember 2010 | 08:50 WI
http://www.surya.co.id/2010/11/08/banjir-gresik-semakin-meluas.html
Hektare Tambak Gresik Kebanjiran
GRESIK | SURYA Online - Banjir di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, masih menggenangi 14 Desa sekaligus mengakibatkan ratusan hektare tambak dan sawah terendam. Kapolsek Cerme, Gresik, AKP Udin Syafrudin, Senin (8/11/2010), mengatakan desa-desa di Kecamatan Cerme yang tergenang banjir adalah Desa Lengkong, Dampaan, Dooro, Dadap Kuning, Burang Anyar, Morowudi, Iker-Iker, Geger, Dongos, Betiting, Suko Anyar, Njono, Pandu, Landean, dan Kandangan.
Data lain, 2.175 rumah terendam, 568 hektare sawah dan 274 hektare tambak juga tergenang banjir. Jalan Poros Desa (JPD) tergenang 16.360 meter. Kerugian total untuk banjir di Kecamatan Cerme sekitar Rp 945 juta.
“Sekarang banjir mulai begeser ke Kecamatan Cerme bagian utara. Pagi ini, tambak-tambak di Desa Tambak Beras, wilayah Cerme Utara, mulai terendam banjir,” katanya.
Kapolsek memaparkan, Senin pagi air masih juga menggenangi Jalan Raya Cerme sepanjang 600 meter, sedangkan Minggu (7/11) sore sekitar satu kilometer. Kendati demikian, banjir mengakibatkan kemacetan cukup panjang.
“Pagi tadi, banjir di Jalan Raya Cerme di Desa Morowudi sedalam 15 centimeter mengakibatkan kemacetan. Volume kendaraan sangat padat, masyarakat beraktifitas seperti berangkat kerja, sekolah, atau lainnya,” terang AKP Udin Syafrudin.
Pertigaan Morowudi merupakan jalur utama penghubung Kecamatan Menganti dan Benjeng menuju ke arah kota.
Ia memprediksi, banjir akan segera surut jika tidak ada hujan dari wilayah Mojokerto yang hilirnya terdapat Kali Lamong anak Bengawan Solo yang meluap di wilayah Kecamatan Balongpanggang, Benjeng, Kedamean, dan Menganti.
Jenis Vaname
Selain merendam ribuan rumah, banjir di Kecamatan Cerme juga menggenangi ratusan hektare tambak yang mengakibatkan kerugian ratusan juta rupiah. “Ratusan hektare tambak udang petambak di Cerme merugi karena banjir. Paling banyak adalah jenis vaname dengan sistem tradisional,” kata Ahmad Dahlan, ketua Himpunan Budi Daya Ikan Kabupaten Gresik.
Namun, dia mengaku belum menghitung pasti kerugian yang dialami petambak di Cerme. Tapi kemungkinan mencapai ratusan juta rupiah. Rinciannya, untuk satu hektare tambak vaname bisa menghasilkan 200 kilogram dan harganya Rp30 ribu perkilogram.
“Namun, banjir rutin seperti ini biasanya sudah diprediksi oleh petambak, sehingga mereka bisa meminimalisasi kerugian. Spekulasi mereka sudah matang,” tuturnya menjelaskan.
Para petani berharap pemerintah memberikan bantuan benih kepada para petambak yang terkena musibah banjir. “Saat ini memang ada bantuan benih dari pemerintah, satu kecamatan 10 orang, masing-masing orang senilai Rp 6 juta. Tapi, ini tidak merata,” tandasnya.
Surya Online Senin, 8 Nopember 2010 | 11:20 WIB
http://www.surya.co.id/2010/11/08/ratusan-hektare-tambak-gresik-kebanjiran.html
Data lain, 2.175 rumah terendam, 568 hektare sawah dan 274 hektare tambak juga tergenang banjir. Jalan Poros Desa (JPD) tergenang 16.360 meter. Kerugian total untuk banjir di Kecamatan Cerme sekitar Rp 945 juta.
“Sekarang banjir mulai begeser ke Kecamatan Cerme bagian utara. Pagi ini, tambak-tambak di Desa Tambak Beras, wilayah Cerme Utara, mulai terendam banjir,” katanya.
Kapolsek memaparkan, Senin pagi air masih juga menggenangi Jalan Raya Cerme sepanjang 600 meter, sedangkan Minggu (7/11) sore sekitar satu kilometer. Kendati demikian, banjir mengakibatkan kemacetan cukup panjang.
“Pagi tadi, banjir di Jalan Raya Cerme di Desa Morowudi sedalam 15 centimeter mengakibatkan kemacetan. Volume kendaraan sangat padat, masyarakat beraktifitas seperti berangkat kerja, sekolah, atau lainnya,” terang AKP Udin Syafrudin.
Pertigaan Morowudi merupakan jalur utama penghubung Kecamatan Menganti dan Benjeng menuju ke arah kota.
Ia memprediksi, banjir akan segera surut jika tidak ada hujan dari wilayah Mojokerto yang hilirnya terdapat Kali Lamong anak Bengawan Solo yang meluap di wilayah Kecamatan Balongpanggang, Benjeng, Kedamean, dan Menganti.
Jenis Vaname
Selain merendam ribuan rumah, banjir di Kecamatan Cerme juga menggenangi ratusan hektare tambak yang mengakibatkan kerugian ratusan juta rupiah. “Ratusan hektare tambak udang petambak di Cerme merugi karena banjir. Paling banyak adalah jenis vaname dengan sistem tradisional,” kata Ahmad Dahlan, ketua Himpunan Budi Daya Ikan Kabupaten Gresik.
Namun, dia mengaku belum menghitung pasti kerugian yang dialami petambak di Cerme. Tapi kemungkinan mencapai ratusan juta rupiah. Rinciannya, untuk satu hektare tambak vaname bisa menghasilkan 200 kilogram dan harganya Rp30 ribu perkilogram.
“Namun, banjir rutin seperti ini biasanya sudah diprediksi oleh petambak, sehingga mereka bisa meminimalisasi kerugian. Spekulasi mereka sudah matang,” tuturnya menjelaskan.
Para petani berharap pemerintah memberikan bantuan benih kepada para petambak yang terkena musibah banjir. “Saat ini memang ada bantuan benih dari pemerintah, satu kecamatan 10 orang, masing-masing orang senilai Rp 6 juta. Tapi, ini tidak merata,” tandasnya.
Surya Online Senin, 8 Nopember 2010 | 11:20 WIB
http://www.surya.co.id/2010/11/08/ratusan-hektare-tambak-gresik-kebanjiran.html
Ribuan Hektar Tambak dan Sawah Terendam Banjir Kali Lamong
GRESIK, KOMPAS.com- Sebanyak 3.082 hektar sawah dan 274 hektar tambak terendam luapan Kali Lamong. Sawah yang terendam tersebar di Kecamatan Benjeng (2.204 hektar), Cerme (568 ha), dan Kedamean (310 ha), sedangkan seluruh tambak yang terendam di Cerme (274 ha).
Hingga Senin (8/11/2010), genangan air di rumah warga masih terlihat di Morowudi dengan ketinggian 30 sentimeter hingga 80 cm. Sementara itu petani di Cerme memanen dini tanaman padinya.
Suparno, seorang petani, menuturkan, padi itu seharusnya dipanen dua minggu lagi. "Daripada rusak mending dipanen," katanya.
Sementara itu, sejumlah sekolah meliburkan. Di antara sekolah yang meliburkan siswanya seperti SMP dan SMA Muhammadiyah dan MI serta SMP Tarbiyatul Muwahidin Morowudi. Halaman MI Tarbiyatul Muwahidin yang masih penuh genangan air digunakan anak-anak bermain air. Mereka bermain dan bersenda gurau dengan temannya.
"Kami nggak sekolah karena banjir. Kami main-main karena sekolah libur," ujar Miko seorang siswa.
Seorang guru, Rokhim, menjelaskan, sekolah diliburkan sementara. "Selasa atau paling lambat Rabu kegiatan belajar mengajaar sudah kembali normal," katanya.
Luapan Kali Lamong berangsur-angsur surut. Total wilayah yang terendam 41 desa di lima kecamatan, yakni Benjeng 14 desa, Cerme 13 desa, Kedamean tiga desa, Balongpanggang delapan desa, dan Menganti tiga desa.
Total rumah yang sempat tergenang 6.951. "Untungnya banjir Kali Lamong kiriman dari Lamongan dan Mojokerto hanya lewat dan genangan tidak lama," kata Sulastri seorang warga.
Kompos.Com Senin, 8 November 2010 | 15:48 WIB
http://regional.kompas.com/read/2010/11/08/15483234/Ribuan.Ha.Tambak.dan.Sawah.Terendam
Hingga Senin (8/11/2010), genangan air di rumah warga masih terlihat di Morowudi dengan ketinggian 30 sentimeter hingga 80 cm. Sementara itu petani di Cerme memanen dini tanaman padinya.
Suparno, seorang petani, menuturkan, padi itu seharusnya dipanen dua minggu lagi. "Daripada rusak mending dipanen," katanya.
Sementara itu, sejumlah sekolah meliburkan. Di antara sekolah yang meliburkan siswanya seperti SMP dan SMA Muhammadiyah dan MI serta SMP Tarbiyatul Muwahidin Morowudi. Halaman MI Tarbiyatul Muwahidin yang masih penuh genangan air digunakan anak-anak bermain air. Mereka bermain dan bersenda gurau dengan temannya.
"Kami nggak sekolah karena banjir. Kami main-main karena sekolah libur," ujar Miko seorang siswa.
Seorang guru, Rokhim, menjelaskan, sekolah diliburkan sementara. "Selasa atau paling lambat Rabu kegiatan belajar mengajaar sudah kembali normal," katanya.
Luapan Kali Lamong berangsur-angsur surut. Total wilayah yang terendam 41 desa di lima kecamatan, yakni Benjeng 14 desa, Cerme 13 desa, Kedamean tiga desa, Balongpanggang delapan desa, dan Menganti tiga desa.
Total rumah yang sempat tergenang 6.951. "Untungnya banjir Kali Lamong kiriman dari Lamongan dan Mojokerto hanya lewat dan genangan tidak lama," kata Sulastri seorang warga.
Kompos.Com Senin, 8 November 2010 | 15:48 WIB
http://regional.kompas.com/read/2010/11/08/15483234/Ribuan.Ha.Tambak.dan.Sawah.Terendam
Minggu, 07 November 2010
Luapan Kali Lamong Meluas di Gresik
GRESIK, KOMPAS.com - Luapan Kali Lamong sejak Sabtu (6/11/2010) semakin meluas. Pada Minggu (7/11/2010) banjir di wilayah Kecamatan Balongpanggang dan Balongpanggang mulai surut, tetapi di wilayah Benjeng dan Cerme luapan air menggenangi rumah warga dan areal sawah dan tambak.
Di Kedungrukem jalan sepanjang 2 meter tergerus air sedalam 130 sentimer mulai diuruk warga. Sebuah truk pengangkut pasir sempat terperosok. Genangan air juga menyebabkan jalur Cerme- Benjeng-Balongpanggang serta Driyorejo-Legundi-Boboh-Kedamean lumpuh.
Genangan air juga menyebabkan arus lalu lintas di Metatu dan Morowudi Cerme macet sepanjang 2 kilometer. Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan dan sebagian kendaraan mogok. Salah seorang warga Cerme Barmandi menuturkan air mulai masuk wilayah Cerme pada pukul 05.00.
Kemacetan terjadi mulai pagi. Salah seorang sopir angkutan trayek Balongpanggang-Pasar Turi mengeluhkan banjir menyebabkan sopir merugi. Dia menuturkan sejak Sabtu dari 125 unit kendaraan di trayek itu hanya 20 unit yang beroperasi.
Jalur macet menyebabkan bensin yang dibutuhkan lebih banyak dan mengurangi pendapatan sopir. Selain itu jalurnya harus memutar hingga sempat lewat Dawarblandong. "Mau menarikkan tarif kasihan penumpang, tidak dinaikkan ongkosnya sopir yang rugi," tuturnya.
Sementara banjir juga menyebabkan udang dan bandeng di tambak lepas. Sejumlah warga memasang jaring untuk menangkap ikan yang lepas itu. Luapan banjir Kali Lamong telah menggenangi 23 desa di empat kecamatan, merendam 4.612 rumah,1.033 hektar sawah.
Laporan wartawan Kompas Adi Sucipto
Minggu, 7 November 2010 | 10:35 WIB
http://regional.kompas.com/read/2010/11/07/10350484/Luapan.Kali.Lamong.Meluas.
Di Kedungrukem jalan sepanjang 2 meter tergerus air sedalam 130 sentimer mulai diuruk warga. Sebuah truk pengangkut pasir sempat terperosok. Genangan air juga menyebabkan jalur Cerme- Benjeng-Balongpanggang serta Driyorejo-Legundi-Boboh-Kedamean lumpuh.
Genangan air juga menyebabkan arus lalu lintas di Metatu dan Morowudi Cerme macet sepanjang 2 kilometer. Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan dan sebagian kendaraan mogok. Salah seorang warga Cerme Barmandi menuturkan air mulai masuk wilayah Cerme pada pukul 05.00.
Kemacetan terjadi mulai pagi. Salah seorang sopir angkutan trayek Balongpanggang-Pasar Turi mengeluhkan banjir menyebabkan sopir merugi. Dia menuturkan sejak Sabtu dari 125 unit kendaraan di trayek itu hanya 20 unit yang beroperasi.
Jalur macet menyebabkan bensin yang dibutuhkan lebih banyak dan mengurangi pendapatan sopir. Selain itu jalurnya harus memutar hingga sempat lewat Dawarblandong. "Mau menarikkan tarif kasihan penumpang, tidak dinaikkan ongkosnya sopir yang rugi," tuturnya.
Sementara banjir juga menyebabkan udang dan bandeng di tambak lepas. Sejumlah warga memasang jaring untuk menangkap ikan yang lepas itu. Luapan banjir Kali Lamong telah menggenangi 23 desa di empat kecamatan, merendam 4.612 rumah,1.033 hektar sawah.
Laporan wartawan Kompas Adi Sucipto
Minggu, 7 November 2010 | 10:35 WIB
http://regional.kompas.com/read/2010/11/07/10350484/Luapan.Kali.Lamong.Meluas.
Langganan:
Postingan (Atom)