GRESIK - Saat pencoblosan ulang Pilbup Gresik 2010 tinggal lima hari lagi, persoalan anggaran tidak kunjung beres hingga kemarin. KPU Gresik maupun dewan sama-sama bersikeras pada sikap masing-masing.
Akibatnya, seluruh kegiatan KPU Gresik menjelang pencoblosan ulang 8 Agustus mendatang dilakukan tanpa anggaran. Tidak hanya pemenuhan kebutuhan logistik coblosan, honorarium maupun keperluan operasional KPU juga tidak memiliki dana.
''Saat ini, kami belum bisa membayar seluruh kegiatan kami,'' kata anggota KPU Gresik Divisi Logistik M. Syadili kemarin (2/8).
Dia mencontohkan, untuk pengadaan logistik, KPU belum membayar apa pun kepada seluruh rekanan. Distribusi logistik juga dilakukan tanpa dana. Honor bagi penyelenggara pencoblosan juga belum dipastikan. ''Sementara kami pending semua sambil menunggu pengesahan anggaran itu,'' katanya.
KPU tidak bisa berbuat banyak soal penetapan anggaran. Mereka memilih menunggu sikap Pemkab.Gresik ''Kami hanya menyusun. Soal penetapan, bergantung pemkab dan dewan,'' ujarnya.
Meski demikian, Syadili memastikan persoalan itu tidak akan mengganggu persiapan pencoblosan ulang. Untuk distribusi logistik, misalnya, hingga kemarin sudah ada enam kecamatan yang dikirimi logistik pencoblosan ulang. Tinggal tiga kecamatan yang belum. Yakni, Menganti, Cerme, dan Benjeng.
Sebagaimana diberitakan, persoalan anggaran untuk keperluan pencoblosan ulang Pilbup Gresik mengambang. Penyebabnya, revisi RKB (rencana kebutuhan belanja) yang disusun KPU Gresik kembali diprotes kalangan dewan.
Gara-garanya, rekomendasi penghematan yang diminta dewan ternyata tak dipakai. Sebaliknya, anggaran pencoblosan ulang yang diusulkan KPU membengkak dari rencana awal. Yakni, dari Rp 4,8 miliar menjadi Rp 5,2 miliar.
Di tempat terpisah, dewan mengambil langkah mengejutkan terkait karut-marut anggaran pilbup. Kemarin, mereka memutuskan untuk mengepras RKB pencoblosan ulang. Dari Rp 5,2 miliar yang diajukan KPU, dewan akhirnya memutuskan untuk mengepras menjadi Rp 4,9 miliar. (ris/c5/ruk)
Sumber: http://www.jawapos.com/metropolis/index.php?act=detail&nid=148408
Jawa Pos_Metropolis [ Selasa, 03 Agustus 2010 ]
Selasa, 03 Agustus 2010
Mengenalkan Dasar Robotika
GRESIK - Perkembangan teknologi adalah sebuah keniscayaan. Karena itu, memperkenalkan dasar-dasar teknologi secara dini kepada anak-anak penting.
Berdasar pemikiran itulah, SD Muhammadiyah Gresik Kota Baru (GKB) memberikan pengetahuan dan praktik dasar robotika kepada para siswanya. Teknologi robotika memang belum masuk kurikulum utama, namun diberikan sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler.
Kepala SD Muhammadiyah GKB Ichwan Arif mengatakan, kelas robotika lebih ditekankan pada pengembangan wawasan siswa tentang dunia robot. "Penekanannya lebih kami arahkan dalam bentuk aplikasi menggunakan alat dan bahan barang bekas," ujar Arif kemarin (2/8).
Karena itu, bahan-bahan pembuatan robot berasal dari barang-barang bekas. Seperti yang ditunjukkan kemarin. Nevinda -salah seorang siswa kelas V-terlihat serius merangkai compact disk (CD) bekas, stik es krim, dan rangkaian barang elektronik lainnya.
Ketika rangkaian itu berbentuk mirip traktor dan bisa berjalan, dia pun langsung bersorak. "Pak, robotnya sudah bisa jalan," teriaknya kepada guru pembimbing. Merakit robot adalah salah satu ekstrakurikuler akademis di sekolah tersebut. Selain itu, ada English Club, mathematic, dan Al Islam. Arif mengatakan, kemampuan life skill menjadi target utama dalam pembelajaran. (yad/c10/ruk)
Sumber: http://www.jawapos.com/metropolis/index.php?act=detail&nid=148409
Jawa Pos_Metropolis [ Selasa, 03 Agustus 2010 ]
Berdasar pemikiran itulah, SD Muhammadiyah Gresik Kota Baru (GKB) memberikan pengetahuan dan praktik dasar robotika kepada para siswanya. Teknologi robotika memang belum masuk kurikulum utama, namun diberikan sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler.
Kepala SD Muhammadiyah GKB Ichwan Arif mengatakan, kelas robotika lebih ditekankan pada pengembangan wawasan siswa tentang dunia robot. "Penekanannya lebih kami arahkan dalam bentuk aplikasi menggunakan alat dan bahan barang bekas," ujar Arif kemarin (2/8).
Karena itu, bahan-bahan pembuatan robot berasal dari barang-barang bekas. Seperti yang ditunjukkan kemarin. Nevinda -salah seorang siswa kelas V-terlihat serius merangkai compact disk (CD) bekas, stik es krim, dan rangkaian barang elektronik lainnya.
Ketika rangkaian itu berbentuk mirip traktor dan bisa berjalan, dia pun langsung bersorak. "Pak, robotnya sudah bisa jalan," teriaknya kepada guru pembimbing. Merakit robot adalah salah satu ekstrakurikuler akademis di sekolah tersebut. Selain itu, ada English Club, mathematic, dan Al Islam. Arif mengatakan, kemampuan life skill menjadi target utama dalam pembelajaran. (yad/c10/ruk)
Sumber: http://www.jawapos.com/metropolis/index.php?act=detail&nid=148409
Jawa Pos_Metropolis [ Selasa, 03 Agustus 2010 ]
Sedekah Bumi Satukan Perbedaan Politik Menjelang Pemilakada Ulang di Gresik Selatan
GRESIK - Banyak cara mengungkapkan rasa syukur, antara lain, dengan menggelar sedekah bumi. Itulah yang dilakukan masyarakat Desa Sumari, Kecamatan Duduksampeyan, kemarin (2/8-2010).
Sedekah bumi tersebut sudah menjadi tradisi selama empat tahun terakhir. Penyelenggaraan kemarin dianggap paling istimewa. Sebab, acara itu bisa mempersatukan kembali masyarakat yang berbeda pilihan dalam pemilihan bupati (pilbup) Gresik 26 Mei lalu.
Ratusan warga dari tiga dusun -Sumari, Jentek, dan Brangkong- tumplek blek memadati jalan desa itu. Mereka ingin melihat "sesaji" yang mereka buat secara urunan. Bentuknya beraneka macam. Ada yang berbentuk tumpeng setinggi dua meter, miniatur masjid dengan ditempeli aneka hasil bumi, mobil tank, dan lainnya. Hasil bumi lalu diarak keliling tiga dusun di desa tersebut.
Warga desa setempat berdoa bersama untuk keselamatan serta persatuan masyarakat desa. Doa bersama digelar di pendapa balai desa.
Kepala Desa Sumari Kecamatan Duduksampeyan Misbakul Munir mengatakan, sedekah bumi terbukti bisa mempersatukan warga selama pelaksanaan pilbup. "Kami akui, pilbup sangat rentan memecah belah kehidupan masyarakat. Namun, dengan sedekah bumi, masyarakat Sumari tetap rukun," ujar Munir. (yad/c3/ruk)
Sumber: http://www.jawapos.com/metropolis/index.php?act=detail&nid=148405
Jawa Pos_Metropolis [ Selasa, 03 Agustus 2010 ]
Sedekah bumi tersebut sudah menjadi tradisi selama empat tahun terakhir. Penyelenggaraan kemarin dianggap paling istimewa. Sebab, acara itu bisa mempersatukan kembali masyarakat yang berbeda pilihan dalam pemilihan bupati (pilbup) Gresik 26 Mei lalu.
Ratusan warga dari tiga dusun -Sumari, Jentek, dan Brangkong- tumplek blek memadati jalan desa itu. Mereka ingin melihat "sesaji" yang mereka buat secara urunan. Bentuknya beraneka macam. Ada yang berbentuk tumpeng setinggi dua meter, miniatur masjid dengan ditempeli aneka hasil bumi, mobil tank, dan lainnya. Hasil bumi lalu diarak keliling tiga dusun di desa tersebut.
Warga desa setempat berdoa bersama untuk keselamatan serta persatuan masyarakat desa. Doa bersama digelar di pendapa balai desa.
Kepala Desa Sumari Kecamatan Duduksampeyan Misbakul Munir mengatakan, sedekah bumi terbukti bisa mempersatukan warga selama pelaksanaan pilbup. "Kami akui, pilbup sangat rentan memecah belah kehidupan masyarakat. Namun, dengan sedekah bumi, masyarakat Sumari tetap rukun," ujar Munir. (yad/c3/ruk)
Sumber: http://www.jawapos.com/metropolis/index.php?act=detail&nid=148405
Jawa Pos_Metropolis [ Selasa, 03 Agustus 2010 ]
Senin, 02 Agustus 2010
Situs Sejarah Kurang Perhatian Pemerintah Kab Gresik
Gresik adalah salah satu kota yang memiliki peradaban sangat panjang. Kota ini pernah menjadi bagian kejayaan kerajaan Mataram. Gresik juga tidak luput dari sejarah panjang kemegahan Majapahit.
Karena itu, tidak heran jika di Gresik sebenarnya banyak terdapat situs-situ bersejarah. Namun, ternyata tidak semua bukti sejarah itu terawat. Bahkan, tidak sedikit saksi sejarah itu yang raib entah ke mana.
Salah satu yang masih menjadi misteri adalah situs-situs yang menunjukkan sejarah kebesaran Gresik pada sekitar tahun 1600-an. Kala itu, bandar Gresik memiliki kesibukan luar biasa karena perannya sebagai distributor.
Tingginya aktivitas perdagangan itulah yang membuat kehidupan Gresik tempo doeloe begitu ramai dan banyak terdapat bangunan besar. Sayangnya, bangunan-bangunan itu tak bisa menjadi peninggalan monumental. Tengok saja, berbagai bangunan tua banyak yang tak terawat. Misalnya deretan bangunan kuno di sekitar Jalan Wahid Hasyim yang kini beralih fungsi.
Contoh lain adalah kebesaran sejarah Sidayu yang dulunya adalah kadipaten pada masa pemerintahan Mataram. Sidayu pernah mengalami masa kejayaan pada masa Kanjeng Sepuh Sidayu.
Namun, tidak ada sejarah runut yang bisa menjelaskan bagaimana seluk beluk Sidayu masa lalu. Mulai dari masa kebesaran maupun keruntuhannya. Berbagai bukti sejarah kejayaan Sidayu saat ini telah menghilang. Kalaupun ada, sudah tidak terawat.
Misalnya cerita tentang kawasan Sidagaran yang dulu adalah pusat perdagangan kerajaan Sidayu. Tidak ada satu pun bukti yang bisa menerangkan cerita itu.
Atau, Telaga Rambit yang dulunya menjadi sumber air warga Sidayu, kondisinya makin memprihatinkan. Belum termasuk situs-situs lain yang menjadi bukti kebesaran Sidayu. "Sebenarnya, kalau mau ditelusuri, cukup banyak situs-situs bersejarah yang perlu mendapat perhatian. Tapi, tidak ada perhatian serius dari pemerintah," kata M Thoha, salah satu pemerhati sejarah Gresik.
Yang terbaru adalah temuan situs baru di kawasan Gosari, kecamatan Ujungpangkah. Di sana beragam bukti-bukti sejarah telah ditemukan. Ternyata, Gosari pernah menjadi bagian kejayaan kerajaan Majapahit.
Kawasan ini juga pernah menjadi pusat produksi tembikar kelas internasional. Faktanya, sampai saat ini praktis belum mendapat penanganan serius. Selain itu, masih banyak lagi bukti-bukti sejarah kebesaran Gresik yang saat ini tak jelas ke mana. (ris/yad/ruk)
http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=148104
Sumber: Jawa Pos_Metropolis [ Minggu, 01 Agustus 2010 ]
Karena itu, tidak heran jika di Gresik sebenarnya banyak terdapat situs-situ bersejarah. Namun, ternyata tidak semua bukti sejarah itu terawat. Bahkan, tidak sedikit saksi sejarah itu yang raib entah ke mana.
Salah satu yang masih menjadi misteri adalah situs-situs yang menunjukkan sejarah kebesaran Gresik pada sekitar tahun 1600-an. Kala itu, bandar Gresik memiliki kesibukan luar biasa karena perannya sebagai distributor.
Tingginya aktivitas perdagangan itulah yang membuat kehidupan Gresik tempo doeloe begitu ramai dan banyak terdapat bangunan besar. Sayangnya, bangunan-bangunan itu tak bisa menjadi peninggalan monumental. Tengok saja, berbagai bangunan tua banyak yang tak terawat. Misalnya deretan bangunan kuno di sekitar Jalan Wahid Hasyim yang kini beralih fungsi.
Contoh lain adalah kebesaran sejarah Sidayu yang dulunya adalah kadipaten pada masa pemerintahan Mataram. Sidayu pernah mengalami masa kejayaan pada masa Kanjeng Sepuh Sidayu.
Namun, tidak ada sejarah runut yang bisa menjelaskan bagaimana seluk beluk Sidayu masa lalu. Mulai dari masa kebesaran maupun keruntuhannya. Berbagai bukti sejarah kejayaan Sidayu saat ini telah menghilang. Kalaupun ada, sudah tidak terawat.
Misalnya cerita tentang kawasan Sidagaran yang dulu adalah pusat perdagangan kerajaan Sidayu. Tidak ada satu pun bukti yang bisa menerangkan cerita itu.
Atau, Telaga Rambit yang dulunya menjadi sumber air warga Sidayu, kondisinya makin memprihatinkan. Belum termasuk situs-situs lain yang menjadi bukti kebesaran Sidayu. "Sebenarnya, kalau mau ditelusuri, cukup banyak situs-situs bersejarah yang perlu mendapat perhatian. Tapi, tidak ada perhatian serius dari pemerintah," kata M Thoha, salah satu pemerhati sejarah Gresik.
Yang terbaru adalah temuan situs baru di kawasan Gosari, kecamatan Ujungpangkah. Di sana beragam bukti-bukti sejarah telah ditemukan. Ternyata, Gosari pernah menjadi bagian kejayaan kerajaan Majapahit.
Kawasan ini juga pernah menjadi pusat produksi tembikar kelas internasional. Faktanya, sampai saat ini praktis belum mendapat penanganan serius. Selain itu, masih banyak lagi bukti-bukti sejarah kebesaran Gresik yang saat ini tak jelas ke mana. (ris/yad/ruk)
http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=148104
Sumber: Jawa Pos_Metropolis [ Minggu, 01 Agustus 2010 ]
Kisah-Kisah di Situs Bersejarah yang Nyaris Terlupakan Terkait Penyebaran Islam di Jawa
Di Gresik banyak situs bersejarah terutama yang berkaitan dengan penyebaran Islam di Pulau Jawa. Meski banyak pengunjung yang mendatanginya, tidak banyak yang memahami sejarah di balik situs-situs tersebut.
Kompleks Kuburan Panjang Siti Fatimah binti Maimun sekitar pukul 14.00 pada Jumat (30/7) terlihat sepi. Siang itu, juri kunci makam putri Raja Malaka bergelar Putri Dewi Retnoswari itu, Haji Hasyim, tampak tertidur dengan beralas karpet warna biru tua. "Sebelum Jumatan (salat Jumat,Red) tadi, ada seribuan siswa yang ke sini,"ujar Hasyim, juru kunci generasi ketujuh di makam yang berlokasi di bukit Leran, Desa Leran, Kecamatan Manyar itu.
Makam Siti Fatimah nyaris tidak pernah sepi. Apalagi, pada bulan rajab sampai menjelang Puasa Ramadan. Siti Fatimah adalah salah satu penyebar agama Islam di Kota Giri sebelum kedatangan Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ainul Yaqin alias Sunan Giri. Dua nama terakhir itu adalah dua dari sembilan wali, yang dikenal sebagai Wali Sanga.
Siti Fatimah anak dari pasangan Maimun, yang berasal dari Iran dengan Dewi Aminah dari Aceh, yang dilahirkan pada tahun 1064. Tokoh perempuan itu meninggal lalu dimakamkan di Bukit Leran pada 1082 Mahesi pada usia 18 tahun. Masih sangat muda.
Di masa hidupnya yang tidak terlalu lama, Fatimah telah berjuang menyebarkan Islam di tanah Jawa yang sebelumnya, sebagian besar masyarakatnya beragama Hindu dan Buddha. "Berdakwahya dengan cara sambil berdagang,"terang Hasyim.
Perjuangan Siti Fatimah menyebarkan agama Islam tidak begitu lama. Karena wabah menyerang masyarakat di sekitar Leran. Fatimah meninggal bersama 12 orang pengikutnya karena wabah penyakit itu. "Wabah itu sangat ganas. Pagi terserang, sore korban sudah meninggal," duga Hasyim.
Kompleks Makam Siti Fatimah binti Maimun di Desa Leran, Kecamatan Manyar itu menjasi salah satu situs bersejarah yang masih cukup terawat. Ada 13 makam di dalam kompleks pemakaman seluas 2.800 meter persegi tersebut.
Yang unik dari 13 makam tersebut, adalah panjangnya yang melebihi ukuran normal tubuh manusia. Makam Sayid Kharim, Sayid Dja'far, dan Sayid Syarif misalnya, panjangnya mencapai sembilan meter dengan lebar dua meter.
Sedangkan, makam Raden Ahmad dan Raden Said, masing-masing mempunyai panjang enam meter dengan lebar 1,5 meter. "Sebenarnya, postur tubuh paman maupun penjaga mbah Siti Fatimah seperti kebanyakan orang Indonesia. Tapi, makamnya dibuat panjang mungkin karena sebuah simbol, perjuangan untuk menyebarkan agama Islam masih sangat panjang," jelas Hisyam.
Di Desa Leran, kata Hisyam, sebenarnya mereka hanya untuk berhenti sementara sebelum melanjutkan perjalanan. Karena itulah dinamakan Leran dari kata leren (Berhenti,Red).
Bangunan dalam kompleks pemakaman Siti Fatimah binti Maimun adalah salah satu bangunan tertua di Gresik. Bangunan di dalam kompleks dibangun sekitar 1082 Masehi.
Bangunan yang termasuk salah satu situs bersejarah itu, kali pertama direnovasi Balai Besar Trowulan, Mojokerto pada 1979-1982. Di kompleks makam Siti Fatimah ini sekarang memang tidak ditemukan prasasti. Karena semua prasasti telah disimpan di Museum Trowulan, Mojokerto dan Museum Sunan Giri.
Selain, situs makam Siti Fatimah, ada bangunan lain yang menunjukkan bahwa Kabupaten Gresik, salah satu kota yang mempunyai peradaban panjang. Diantaranya, kompleks makam Nyai Ageng Pinatih di Kelurahan Kebungson, Kecamatan Gresik. Bangunan makamnya terletak sekitar 500 meter dari Pendapa kantor Bupati Gresik.
Nyai Ageng Pinatih adalah seorang saudagar kaya yang diangkat menjadi kepala Syahbandar Pelabuhan Gresik pada masa Kerajaan Majapahit. Nyai Ageng Pinatih juga sebagai ibu angkat dari Maulana Ainul Yaqin, atau Raden Paku, atau Joko Samodro atau Prabu Satmoto atau Sunan Giri.
Nyai Ageng Pinatih wafat pada tahun 1483 masehi. Makamnya masih sangat terawat bagus karena telah beberapa kali mengalami renovasi.
Berdirinya dua bangunan tua tidak bisa dipungkuri bahwa Kabupaten Gresik adalah salah satu kota yang mempunyai peradaban cukup panjang. Memang tidak semua situs sejarah terawat dengan baik, seperti di dua tempat itu.
Masih banyak juga tidak terawat. Di antaranya, temuan tim Departemen Kebudayaan dan Pariwisata di Gosari. Di tempat itu ditemukan prasasti di sebuah gua bernama Butulan di kawasan pegunungan kapur utara. (yad/ris/ruk)
http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=148105
Jawa Pos _ Metropolis [ Minggu, 01 Agustus 2010 ]
Kompleks Kuburan Panjang Siti Fatimah binti Maimun sekitar pukul 14.00 pada Jumat (30/7) terlihat sepi. Siang itu, juri kunci makam putri Raja Malaka bergelar Putri Dewi Retnoswari itu, Haji Hasyim, tampak tertidur dengan beralas karpet warna biru tua. "Sebelum Jumatan (salat Jumat,Red) tadi, ada seribuan siswa yang ke sini,"ujar Hasyim, juru kunci generasi ketujuh di makam yang berlokasi di bukit Leran, Desa Leran, Kecamatan Manyar itu.
Makam Siti Fatimah nyaris tidak pernah sepi. Apalagi, pada bulan rajab sampai menjelang Puasa Ramadan. Siti Fatimah adalah salah satu penyebar agama Islam di Kota Giri sebelum kedatangan Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ainul Yaqin alias Sunan Giri. Dua nama terakhir itu adalah dua dari sembilan wali, yang dikenal sebagai Wali Sanga.
Siti Fatimah anak dari pasangan Maimun, yang berasal dari Iran dengan Dewi Aminah dari Aceh, yang dilahirkan pada tahun 1064. Tokoh perempuan itu meninggal lalu dimakamkan di Bukit Leran pada 1082 Mahesi pada usia 18 tahun. Masih sangat muda.
Di masa hidupnya yang tidak terlalu lama, Fatimah telah berjuang menyebarkan Islam di tanah Jawa yang sebelumnya, sebagian besar masyarakatnya beragama Hindu dan Buddha. "Berdakwahya dengan cara sambil berdagang,"terang Hasyim.
Perjuangan Siti Fatimah menyebarkan agama Islam tidak begitu lama. Karena wabah menyerang masyarakat di sekitar Leran. Fatimah meninggal bersama 12 orang pengikutnya karena wabah penyakit itu. "Wabah itu sangat ganas. Pagi terserang, sore korban sudah meninggal," duga Hasyim.
Kompleks Makam Siti Fatimah binti Maimun di Desa Leran, Kecamatan Manyar itu menjasi salah satu situs bersejarah yang masih cukup terawat. Ada 13 makam di dalam kompleks pemakaman seluas 2.800 meter persegi tersebut.
Yang unik dari 13 makam tersebut, adalah panjangnya yang melebihi ukuran normal tubuh manusia. Makam Sayid Kharim, Sayid Dja'far, dan Sayid Syarif misalnya, panjangnya mencapai sembilan meter dengan lebar dua meter.
Sedangkan, makam Raden Ahmad dan Raden Said, masing-masing mempunyai panjang enam meter dengan lebar 1,5 meter. "Sebenarnya, postur tubuh paman maupun penjaga mbah Siti Fatimah seperti kebanyakan orang Indonesia. Tapi, makamnya dibuat panjang mungkin karena sebuah simbol, perjuangan untuk menyebarkan agama Islam masih sangat panjang," jelas Hisyam.
Di Desa Leran, kata Hisyam, sebenarnya mereka hanya untuk berhenti sementara sebelum melanjutkan perjalanan. Karena itulah dinamakan Leran dari kata leren (Berhenti,Red).
Bangunan dalam kompleks pemakaman Siti Fatimah binti Maimun adalah salah satu bangunan tertua di Gresik. Bangunan di dalam kompleks dibangun sekitar 1082 Masehi.
Bangunan yang termasuk salah satu situs bersejarah itu, kali pertama direnovasi Balai Besar Trowulan, Mojokerto pada 1979-1982. Di kompleks makam Siti Fatimah ini sekarang memang tidak ditemukan prasasti. Karena semua prasasti telah disimpan di Museum Trowulan, Mojokerto dan Museum Sunan Giri.
Selain, situs makam Siti Fatimah, ada bangunan lain yang menunjukkan bahwa Kabupaten Gresik, salah satu kota yang mempunyai peradaban panjang. Diantaranya, kompleks makam Nyai Ageng Pinatih di Kelurahan Kebungson, Kecamatan Gresik. Bangunan makamnya terletak sekitar 500 meter dari Pendapa kantor Bupati Gresik.
Nyai Ageng Pinatih adalah seorang saudagar kaya yang diangkat menjadi kepala Syahbandar Pelabuhan Gresik pada masa Kerajaan Majapahit. Nyai Ageng Pinatih juga sebagai ibu angkat dari Maulana Ainul Yaqin, atau Raden Paku, atau Joko Samodro atau Prabu Satmoto atau Sunan Giri.
Nyai Ageng Pinatih wafat pada tahun 1483 masehi. Makamnya masih sangat terawat bagus karena telah beberapa kali mengalami renovasi.
Berdirinya dua bangunan tua tidak bisa dipungkuri bahwa Kabupaten Gresik adalah salah satu kota yang mempunyai peradaban cukup panjang. Memang tidak semua situs sejarah terawat dengan baik, seperti di dua tempat itu.
Masih banyak juga tidak terawat. Di antaranya, temuan tim Departemen Kebudayaan dan Pariwisata di Gosari. Di tempat itu ditemukan prasasti di sebuah gua bernama Butulan di kawasan pegunungan kapur utara. (yad/ris/ruk)
http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=148105
Jawa Pos _ Metropolis [ Minggu, 01 Agustus 2010 ]
HUMAS-SQ Saling Jegal Hadang Gugatan ke MK dengan Pengajuan Kasasi
GRESIK - Menghadapi coblosan ulang pemilihan bupati (pilbup) Gresik 8 Agustus mendatang, perseteruan pasangan Sambari Halim-Mohammad Qosim (SQ) melawan Husnul Khuluq-Musyaffa' Noer (Humas) makin panas. Masing-masing berusaha menjegal lawannya.
Tim Humas berusaha menjegal upaya SQ yang mengajukan gugatan ke MK (Mahkamah Konstitusi) yang bertujuan membatalkan kemenangan Humas. Caranya, mengajukan upaya kasasi atas putusan banding kasus money politics. Dengan cara tersebut, putusan itu dinilai belum memiliki kekuatan hukum tetap, sehingga tidak bisa dijadikan dasar untuk menggugat ke MK.
Sebagaimana diberitakan kemarin (30/7), tim pemenangan SQ berencana mengajukan gugatan ke MK dengan permohonan diskualifikasi kemenangan Humas. Dasarnya, putusan banding Pengadilan Tinggi Jawa Timur yang menyebut anggota tim sukses Humas, Abdul Kohar, terbukti melakukan money politics.
Menghadapi hal itu, tim Humas memutuskan untuk mengajukan kasasi atas putusan PT yang memvonis Kohar dengan enam bulan penjara. ''Kami ajukan kasasi ke MA (Mahkamah Agung),'' tegas Sekretaris Tim Pemenangan Humas Ainur Rofiq kemarin (30/7).
Menurut dia, banyak pertimbangan yang membuat mereka memutuskan untuk mengajukan kasasi. Yang pasti, mereka memang tidak bisa menerima putusan tersebut. Alasannya, tim Humas menganggap kasus money politics itu terlalu dipolitisasi.
Anggota tim advokasi Humas, Prihatin, menambahkan, upaya kasasi tersebut tidak lepas dari pandangan mereka bahwa putusan PT Jatim itu belum final.
Dalam kesempatan tersebut, tim Humas kembali menegaskan bahwa Kohar tidak masuk dalam tim sukses resmi Humas yang diajukan ke KPU Gresik. ''Abdul Kohar itu hanya masuk di internal tim PC NU Gresik,'' tegas Susanto, anggota lain tim advokasi Humas.
Selain itu, kasus money politics tersebut terjadi di wilayah yang diulang. Karena itu, mereka menilai pelanggaran tersebut otomatis hangus.
Tim Humas balik menuding bahwa manuver SQ sarat pelanggaran. Mulai pendistribusian selebaran berisi ajakan kampanye, manuver lain SQ yang mendiskreditkan Humas, hingga upaya SQ yang dianggap memanipulasi putusan MK kepada publik.
Menurut Hariyadi, ketua tim advokasi SQ, manuver Humas tersebut merupakan bentuk ketakutan mereka. ''Logikanya, wong sudah jelas-jelas salah kok masih kasasi. Itu kan bentuk ketakutan mereka,'' ujarnya.
Selain itu, kata dia, jika mengacu pada UU No 10/2008 tentang Pemilu, putusan PT adalah putusan final. ''Mereka sudah tidak bisa mengajukan kasasi,'' tegasnya.
Hariyadi menyatakan, langkah SQ melaporkan kasus itu ke MK sudah wajar. Sebab, sejak MK memutus pencoblosan ulang pilbup Gresik, seluruh kejadian dalam pilbup Gresik diawasi MK. ''Kami masih bisa lapor. Soal putusan, tetap di MK. Bahkan, kami sudah menemukan banyak pelanggaran lain dari tim Humas,'' ungkapnya. (ris/c5/ruk)
Sumber: http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=147929
Sumber Jawa Pos [ Sabtu, 31 Juli 2010 ]
Tim Humas berusaha menjegal upaya SQ yang mengajukan gugatan ke MK (Mahkamah Konstitusi) yang bertujuan membatalkan kemenangan Humas. Caranya, mengajukan upaya kasasi atas putusan banding kasus money politics. Dengan cara tersebut, putusan itu dinilai belum memiliki kekuatan hukum tetap, sehingga tidak bisa dijadikan dasar untuk menggugat ke MK.
Sebagaimana diberitakan kemarin (30/7), tim pemenangan SQ berencana mengajukan gugatan ke MK dengan permohonan diskualifikasi kemenangan Humas. Dasarnya, putusan banding Pengadilan Tinggi Jawa Timur yang menyebut anggota tim sukses Humas, Abdul Kohar, terbukti melakukan money politics.
Menghadapi hal itu, tim Humas memutuskan untuk mengajukan kasasi atas putusan PT yang memvonis Kohar dengan enam bulan penjara. ''Kami ajukan kasasi ke MA (Mahkamah Agung),'' tegas Sekretaris Tim Pemenangan Humas Ainur Rofiq kemarin (30/7).
Menurut dia, banyak pertimbangan yang membuat mereka memutuskan untuk mengajukan kasasi. Yang pasti, mereka memang tidak bisa menerima putusan tersebut. Alasannya, tim Humas menganggap kasus money politics itu terlalu dipolitisasi.
Anggota tim advokasi Humas, Prihatin, menambahkan, upaya kasasi tersebut tidak lepas dari pandangan mereka bahwa putusan PT Jatim itu belum final.
Dalam kesempatan tersebut, tim Humas kembali menegaskan bahwa Kohar tidak masuk dalam tim sukses resmi Humas yang diajukan ke KPU Gresik. ''Abdul Kohar itu hanya masuk di internal tim PC NU Gresik,'' tegas Susanto, anggota lain tim advokasi Humas.
Selain itu, kasus money politics tersebut terjadi di wilayah yang diulang. Karena itu, mereka menilai pelanggaran tersebut otomatis hangus.
Tim Humas balik menuding bahwa manuver SQ sarat pelanggaran. Mulai pendistribusian selebaran berisi ajakan kampanye, manuver lain SQ yang mendiskreditkan Humas, hingga upaya SQ yang dianggap memanipulasi putusan MK kepada publik.
Menurut Hariyadi, ketua tim advokasi SQ, manuver Humas tersebut merupakan bentuk ketakutan mereka. ''Logikanya, wong sudah jelas-jelas salah kok masih kasasi. Itu kan bentuk ketakutan mereka,'' ujarnya.
Selain itu, kata dia, jika mengacu pada UU No 10/2008 tentang Pemilu, putusan PT adalah putusan final. ''Mereka sudah tidak bisa mengajukan kasasi,'' tegasnya.
Hariyadi menyatakan, langkah SQ melaporkan kasus itu ke MK sudah wajar. Sebab, sejak MK memutus pencoblosan ulang pilbup Gresik, seluruh kejadian dalam pilbup Gresik diawasi MK. ''Kami masih bisa lapor. Soal putusan, tetap di MK. Bahkan, kami sudah menemukan banyak pelanggaran lain dari tim Humas,'' ungkapnya. (ris/c5/ruk)
Sumber: http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=147929
Sumber Jawa Pos [ Sabtu, 31 Juli 2010 ]
PKS Berpaling ke SQ Mendapat ''Restu'' Pasangan Yang Sebelumnya Didukung
GRESIK - Tidak berlebihan jika coblos ulang pemilihan bupati (pilbup) Gresik pada 8 Agustus mendatang terkesan sebagai pertarungan dua kandidat. Sebab, partai-partai politik yang sebelumnya mendukung pasangan lain mulai mengalihkan dukungan ke salah satu yang masuk dalam dua besar. Yaitu, pasangan Husnul Khluluq (humas) atau Sambari Halim-Mohammad Qosim (SQ).
Yang terbaru, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) secara resmi mengalihkan dukungan kepada pasangan SQ. Dalam coblosan pertama pada 26 Mei lalu, PKS mendukung pasangan M. Nashihan-Syamsul Maarif (Monash-Syamsul) yang memperoleh suara kurang signifikan.
Salah seorang pengurus DPD PKS Gresik, Kusno, menjelaskan bahwa pengalihan dukungan kepada pasangan bernomor urut 3 itu dilakukan dengan beberapa pertimbangan. "Pertama, sejak awal, PKS berkomitmen menjadi parpol yang bersih dan murni untuk kepentingan publik," katanya.
Berdasar hasil pengamatan partai itu dalam coblosan pertama lalu, duet SQ dianggap mau diajak berkomitmen untuk perbaikan Gresik lima tahun ke depan. "Selain itu, menurut hasil kajian PKS, SQ merupakan calon yang bersih," ujarnya.
Menurut Kusno, DPD PKS Gresik sudah berkomunikasi dengan Monash-Syamsul yang sebelumnya mereka dukung. "Kami jujur menyatakan bahwa terlalu berat untuk maju. Dari situ, beliau (Monash-Syamsul) merestui kami untuk mengalihkan dukungan," terangnya.
Keputusan PKS mendukung SQ, menurut Kusono, sudah melalui proses panjang. Menurut dia, PKS pernah menjalin komunikasi dengan pasangan Humas. Hasil komunikasi dengan dua pasangan itu dibahas dalam Tim Optimalisasi Musyarakah (TOM). "Berdasar hasil kajian yang panjang, akhirnya pilihan jatuh ke SQ," katanya.
PKS tidak menampik bahwa duet SQ bukanlah pasangan yang unggul dalam coblosan pada 26 Mei lalu. Namun, dasar utama PKS untuk mengalihkan dukungan bukan hasil. "Yang kami cari adalah calon yang punya kejujuran," terangnya.
Ada beberapa poin kontrak politik antara PKS dan SQ. Salah satunya adalah komitmen soal pemerintahan SQ. Jika terpilih, pemerintahan mereka harus bebas dari korupsi. Selain itu, pemerintah harus terbuka dan transparan kepada publik. SQ juga diminta mengubah Gresik ke arah yang lebih baik.
Sambari tidak berkeberatan dengan kontrak politik tersebut. "Permintaan PKS itu sama dengan apa yang kami susun selama ini. Karena itu, kami menerima dengan tangan terbuka," jelasnya. (ris/c12/ruk)
Sumber: http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=148232
Jawa Pos [ Senin, 02 Agustus 2010 ]
Yang terbaru, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) secara resmi mengalihkan dukungan kepada pasangan SQ. Dalam coblosan pertama pada 26 Mei lalu, PKS mendukung pasangan M. Nashihan-Syamsul Maarif (Monash-Syamsul) yang memperoleh suara kurang signifikan.
Salah seorang pengurus DPD PKS Gresik, Kusno, menjelaskan bahwa pengalihan dukungan kepada pasangan bernomor urut 3 itu dilakukan dengan beberapa pertimbangan. "Pertama, sejak awal, PKS berkomitmen menjadi parpol yang bersih dan murni untuk kepentingan publik," katanya.
Berdasar hasil pengamatan partai itu dalam coblosan pertama lalu, duet SQ dianggap mau diajak berkomitmen untuk perbaikan Gresik lima tahun ke depan. "Selain itu, menurut hasil kajian PKS, SQ merupakan calon yang bersih," ujarnya.
Menurut Kusno, DPD PKS Gresik sudah berkomunikasi dengan Monash-Syamsul yang sebelumnya mereka dukung. "Kami jujur menyatakan bahwa terlalu berat untuk maju. Dari situ, beliau (Monash-Syamsul) merestui kami untuk mengalihkan dukungan," terangnya.
Keputusan PKS mendukung SQ, menurut Kusono, sudah melalui proses panjang. Menurut dia, PKS pernah menjalin komunikasi dengan pasangan Humas. Hasil komunikasi dengan dua pasangan itu dibahas dalam Tim Optimalisasi Musyarakah (TOM). "Berdasar hasil kajian yang panjang, akhirnya pilihan jatuh ke SQ," katanya.
PKS tidak menampik bahwa duet SQ bukanlah pasangan yang unggul dalam coblosan pada 26 Mei lalu. Namun, dasar utama PKS untuk mengalihkan dukungan bukan hasil. "Yang kami cari adalah calon yang punya kejujuran," terangnya.
Ada beberapa poin kontrak politik antara PKS dan SQ. Salah satunya adalah komitmen soal pemerintahan SQ. Jika terpilih, pemerintahan mereka harus bebas dari korupsi. Selain itu, pemerintah harus terbuka dan transparan kepada publik. SQ juga diminta mengubah Gresik ke arah yang lebih baik.
Sambari tidak berkeberatan dengan kontrak politik tersebut. "Permintaan PKS itu sama dengan apa yang kami susun selama ini. Karena itu, kami menerima dengan tangan terbuka," jelasnya. (ris/c12/ruk)
Sumber: http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=148232
Jawa Pos [ Senin, 02 Agustus 2010 ]
Langganan:
Postingan (Atom)